Malam Berawan
malam-malam berawan
malam-malam tanpa hujan bintang dan kecupan
dibawanya ku ke dinding-dinding ratapan
hingga malam menghilang yang terlihat hanya kegelapan
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Related quotes
Setelah Perayaan
Terpuruk ku di sini
Di antara debu sisa-sisa kembang api
Awan di langit malam yang gelap
Kabut asap yang mengambang
Dengan bau mesiu habis terbakar
Tak ada lagi bunga yang berpendar warna-warni
Tak ada lintasan cahaya yang bersahutan bernyanyi
Bagaikan sebuah orkestra tanpa suara
Lalu aku kembali pada kesendirian
Keramaian lamat-lamat meninggalkan diriku
Yang terlalu lamban bergerak untuk mengejar mimpi
Yang kupunya hanya hasrat yang telah mati
Menunggu sejumput percikan api
Mengenaiku kembali
Dan aku akan melesat di tengah hitamnya langit malam
Berpendar dengan membakar seluruh diriku
Lalu aku akan menghilang dalam hujan bunga api
Berharap seseorang melayangkan pandang sekali
Diriku yang telah telantar dan dilupakan
Tanpa sempat memenuhi janjiku untuk menjadi
Kembang api yang tak gagal lagi
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
I Won't Go Back (Indonesian version)
Malam ini akankah kau datang
Atau malah melupakan
Penantianku begitu panjang
Jiwaku menyerpih
Hingga tiba fakta terbentang
Yang tak dapat kau dustakan
Dan dunia seakan menghilang
Hatiku menghitam
Takkan kembali
Takkan merajut asa di diri
Karena ku telah temui
Jalan sepiku sendiri
Tanpa dirimu
Takkan menangis
Walau malam dingin tak terperi
Karena ku telah sadari
Semua berakhir di sini
Bersama cintamu
Ingin cinta semua kubuang
Timpakan semua kesalahan
Dan ku kan menjadi pemenang
Tapi ku tak tenang
Ingin benci tumbuh berkembang
Menutupi semua kenangan
Indah tapi begitu mencengkeram
Dan ku tak tahan
Takkan kembali
Takkan merajut asa di diri
Karena ku telah temui
Jalan hidupku sendiri
Tanpa dirimu
Takkan sesali
Meski ingin kuulang kembali
Karena semua memori
Hanyalah sebuah memori
Yang kan berlalu
Malam ini akankah kau datang
Atau malah melupakan
Kini kau hanya sebuah bayang
Dan pagi menjelang
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Kwatrin Memandang Bulan (Indonesian)
~Requiem buat Sapto Rahardjo~
Lelaki bersandal jepit memandang bulan
Bilakah hari memadamkan baranya?
Samudera bergelombang membenamkan setiap kembara
Harapan demi harapan gugur dari rambutnya
Lelaki bersandal jepit mengepit senyap
Bulan beserta malam-malam dihatinya
Kerontang musim mengajak bicara
Nyanyian demi nyanyian menggugurkan senja
Lelaki bersandal jepit merangkai mimpinya
Mimpi melayang seperti burung camar
Menggapai langit menjatuhkan hujan
Hujan runtuh membasahi kemarau
Lelaki bersandal jepit memainkan bonang
Malam hening menggetarkan dawai
Sunyi adalah kembara
Kembara bagi seorang pecinta sejati
Lelaki bersandal jepit merangkai bunga
Bunga potong segar dalam cawan
Ikebana dan sakura, rama-rama dan kupu-kupu
Hidup dan mati berkejaran selalu*
Lelaki bersandal jepit terbaring sendiri
Rumput dan semak bersamanya
Tiada bonang dan bunga dibawanya
Hanya cinta-kasih ada dipeluknya
poem by Imam Setiaji Ronoatmojo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Pantun - sungei kampung kuantan sunyi gelap
sungei kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencair malam segenap
kilauan mengawan sungguh menawan
kampung kuantan river is quiet and dark
the fishermen's oars slice a loneliness
the fireflies melt my night away
their flame of love takes my breathe away
sungei kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencair malam segenap
kilauan bercinta meriahkan percutian
sungei kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencair malam segenap
kilauan cinta meriahkan percutian
sungei kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencair malam segenap
kilauan mengawan berentak nyanyian
sungei kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencair malam segenap
kilauan dan ketawa beretak nyanyian
sungei kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencerahkan malam segenap
kilauan keriangan berentak nyanyian
kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencair malam segenap
kilauan mengawan tanda kesucian
poem by John Tiong Chunghoo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Pantun - Malam bagai intan Berkilauan
malam bagai intan berkilauan
rindu ku tidak terhingga
angin tasik memberi ku kenangan
seperti kami dah jumpa
malam bagai intan berkilauan
rindu ku tidak terhingga
angin tasik membawa kenangan
seperti kami dah jumpa
the night glitters like a diamond
the longing is endless
the wind from the lake evokes a memory
as if we have already met
poem by John Tiong Chunghoo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Where?
Dimanakah dirimu berada?
Di sepoi harum rumput habis dipotong
Di kertak dedaunan kering siap dibakar
Di keremangan hutan diterangi api unggun malam
Dimanakah pikiranmu berada?
Di persimpangan jalan menatap ranting penunjuk terabaikan
Di selubung sejuknya pembaringan tua yang nyaman
Di langit-langit kamar penuh bercak coklat yang liar
Dimanakah hatimu berada?
Di deru suara mesin motor yang perlahan menghilang
Di lubang kecil tersembunyi mengkerutkan senyuman
Di keringnya danau air mata dan impian
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Mantra Hujan
Hujan, terus hujan sepanjang hari
Hujan yang tak henti
Seperti ingin mendinginkan bumi yang panas
Hingga kembali mengeras
Atau malah ingin menguasai dunia
Dengan melapukkan manusia
Hujan, terus hujan sepanjang hari
Hujan yang tak henti
Seperti ingin meminta hati yang sepi
Turut serta dalam nyanyian sunyi
Atau malah ingin menarik jiwa yang tak peduli
Masuk ke dalam tidur abadi
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Padam
Apa yang kau dapatkan, hargailah
Apa yang dipinjam, kembalikan
Sebelum semuanya menghilang
Dan api di dalammu padam
Apa yang kau simpan, rawatlah
Apa yang kau buang, relakan
Bila api di dalam dirimu telah padam
Kenangan pun tak lagi bisa membakar
Mimpi pun tak bisa lagi bersinar
Jadi jangan berhenti dulu
Sebab dewa masih memberimu waktu
Sebelum semuanya memudar
Dan api di dalammu padam
Apa yang kau inginkan, kejarlah
Apa yang kau takuti, hadapi
Sebelum semuanya menghilang
Dalam kegelapan yang kelam
Apa yang kau jaga, sayangilah
Apa yang kau benci, tangisi
Karena bila api yang ada telah padam
Ingatan pun tak lagi berarti
Jalan yang lebar pun tak lagi menarik
Jadi jangan mencemaskan hal yang tak perlu
Sebab meski terlihat tak ada waktu
Dan angin tak mau membantu
Kobaran di dadamu masih belum padam
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Beda antara kita
Beda antara kita...
hanya kita tahu,
kekuatan kita
kelemahan kita
manusia,
ciptaan tuhan
punya beda
tiada yang sama antara kita
hanya beda yang terlihat
beda kau dan aku
disegenap sudut
disegenap arah
hanya beda!
poem by Qistina Zaini

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Dewi Sri, the Goddes of Rice
In the frontyard and leftside of my grandpa house
When the padi harvests and holiday came
I certainly went to my grandpahouse
Where before and after the harvests we have a religiousmale together
We pray and praise the Lord
Through the smoke of incense up and up to the sky
And the wind brought its to people around the village
For avoiding disaster and thanks to
Dewi Sri, the Goddes of Rice (fertility goddes)
My partjob is waiting the rice in the place for drying
firewood, from morning till evening
Till its rice and firewood to become dry
While I saw some people were paced back and forth over the path
Beside my grandpahouse
To carry padis on the back after the harvest
With pureface
After they got part of their work during threemonth
In the ricefields
Wheter they have and havenot the ricefield
When I am boring for waiting
I called the people who sell the sugarcandy
I Change its with my grandma rice
When teh eveing came I feel tired
waiting the rice dried the whole day
my grandma brought torch made from coconut leafe
went to uncle Amat Sirat
Where his wife able to massage while her whusband work in the ricefield
Malam istrinya memijat kakiku yang pegel, ototku yang kaku,
At that night she massages my foot who feel tired
After the holiday finish
I turnback to the town
Back to school
(Bogor 23 Juni 2005) .
poem by Prasetya Utama

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Pantun - Besarnya sungei sungei sarawak (translated to Engish)
besarnya sungei sungei sarawak
bawa kita ke olympik menang menyelam
besar nya impian pemuda pemudi sarawak
untuk menang sanggup latih siang dan malam
the rivers of sarawak are big
take us to the olympics to win diving
big is the ambition of the youth in sarawak
training day and night to win
besarnya sungei sungei sarawak
sungei sarawak, sungei lupar, sungei rejang
besarnya impian pemuda pemudi sarawak
bawa kita ke olympik menang berenang
Pantum composed the day after Malaysian won bronze in 10m diving
at Olympics London 2012
poem by John Tiong Chunghoo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Senja kala
Senja kala di padang gema
Aku lupa rupa sang suara
Bisikan merayu di telinga
Atau angin ribut dari utara
Senja kala di batas jumpa
Aku lupa tanda sang cinta
Getaran bunga pertama
Atau gelora bulan purnama
Senja kala di ujung dupa
Aku lupa nada sang jiwa
Harum mewarnai dunia
Atau asap melayang di mata
Senja kala di jembatan tua
Aku lupa wangi sang gula
Manis melekat saat tertawa
Atau pahit di luka menganga
Senja kala di lubuk malam
Aku lupa belai sang cahaya
Kilau permata di laut tenang
Atau semburat merah di langit hitam
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Lavdate Dominvm
(m&l - weikath)
Hallelvja, homines
Gavdete de domino
Qui donat vita omnes, qvod amat nos!
Hellelvja, mi devs
Tv vivis omnipotens
Tv es semper benignvs, tv amas nos!
Pater noster in caelis
Totvm orbem terrae regnat
Et vincit diabovm timorem
Et omnivm hominvm
O lavdate dominvm
Praedicate devm
Amate creatorem
Qui creavit mvndvm
Oh, lavdate dominvm!
Ecce et te vvlt
Jesvs liberare
Dvcere per vitam tvvs amicvs
Gavde tv!
Amici, dimittite
Mente malam pravamqve!
Anima accipite salvam fidem!
Jesvs chrisvs in crvce
De vita decessit dolens
Sed de morte resvrrexit lvx mvndi nova
O lavdate dominvm
Filivm jesvs christvm
Omina redenptoren
Et spiritvm sanctvm!
Oh, lavdate dominvm!
Solo 1: michael
Solo 2: roland
song performed by by Helloween

Submitted by Lucian Velea
Vote! | Copy!
Laudate Dominum
Halleluja, homines,
Gaudete de domino,
Qui donat vita omnes, quod amat nos!
Halleluja, mi deus,
Tu vivis omnipotens,
Tu es semper benignus, tu amas nos!
Pater noster in clis
Totum orbem terr regnat
Et vincit diabolum timorem et ominum hominum
Oh laudate dominum!
Prdicate deum
Amate creatorem,
Qui creavit mundum
Oh laudate dominum!
Ecce, et te vult Jesus liberare,
Ducere per vitam amicus, gaude tu!
Amici, dimittie
Mente malam pravamque!
Anima accipite salvam fidem!
Jesus Christus in cruce
De vita decessit dolens
Sed de morte resurrexit lux mundi nova
Oh laudate dominum!
Filium Jesum Christum
Ominum redemporem
Et spiritum santum!
Oh laudate dominum!
Oh laudate dominum!
Prdicate deum
Amate creatorem,
Qui creavit mundum
Oh laudate dominum!
Oh laudate dominum!
Oh laudate dominum!
Oh laudate dominum!
Oh laudate dominum!
Oh laudate dominum
song performed by by Helloween

Submitted by Lucian Velea
Vote! | Copy!
Merah Putih
merah adalah berani
warna ksatria yang gagah
membela negeri
tapi bila hanya merah
yang ada hanya darah
putih adalah suci
warna sang perawan
bersahaja dalam diri
tapi bila hanya dia
yang ada hanya hampa
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Tenggelam
Tenggelam
Rasa yang ada menghilang
Jiwaku kan tertelan
Kesepian
Menghujam
Diserang jurang kegelapan
Tertatih coba tuk pulang
Sendirian
Dan ku kan bertahan
Walau badai menerjang
Ku tetap genggam harapan
Ku kan jauh terbang
Dan ku kan berjalan
Meski pedih terus membayang
Ku yakin di depan ada jalan
Yang bersinar dan terang
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Cinta tak termiliki
Cinta…
Sendirian aku termenung
Mengenang dia yang tak termiliki
Sendirian…..
Sendiri aku lagi dalam kegelapan
dalam kekosongan jiwa yang nyata
tanpa dia….
Cinta, aku sendiri
Mencintainya, cinta..aku …..cinta
Tapi
Sendiri aku terus…
Tenggelam aku dalam renungan bundar matanya
Betapa redupnya…betapa indahnya
Tapi sendiri aku terus…
Mengenang dia yang tak termiliki
Bahgia bila mendengar bicaranya…
Tapi…
Lemah tanpa suaranya
Syurga aku lihat senyumnya
tapi…
Sedih bila hadapi amarahnya
Bangga aku dengar pujinya
Tapi…
Kecewa bila kudengar sindirnya
Ingin aku mengenalnya
Ingin aku milikinya
Ingin aku cintainya
Tanpa dia tau …
Tanpa dia mengerti…
Betapa dekat hadirnya, tapi.. jauh jiwanya
Ingin kusentuh selalu biar hati tenang
Biar jiwa lapang…
Tapi termenung aku terus mengenang cinta
Yang tak termiliki….
Hati ingin miliki
Hati ingin …. Hati ingin
Tapi termenung aku terus
Dibalik tabir jiwa yang tak mungkin aku miliki….
poem by Qistina Zaini

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Mungkin
Mungkin aku telah tertipu mulut manismu
Padahal kau hanya menawarkan cinta palsu
Mungkin aku bermimpi memilikimu
Padahal aku terjebak permainan cintamu
Mungkin kau hanya mencari kebahagiaan semu
Dan aku hanya memuaskan rasa ingin tahuku
Mungkin kau tak memikirkan diriku
Dan kau membuatku percaya hanya itu
Mungkin aku tak peduli
Karena aku tak pernah menyesal memilihmu
Mungkin aku tak perlu mengerti
Karena aku terlanjur mencintaimu
Mungkin semua ini adalah kebohongan yang indah
Dunia ilusi yang kita ciptakan bersama
Mungkin kita semua mempunyai sebuah rahasia
Tentang perasaan sepi yang kita punya
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Difahami
Dalam kekerasan hati aku lihat ada kelembutan
yang tak pernah dapat terungkai
Dalam pedasnya kata-kata aku lihat kasih sayang yang
tak pernah dapatku mengerti
Dalam tajamnya renugan mata kulihat sinar
Matahari yang terik menyinari menyatakan
Betapa hati ingin dimengerti
Dalam halusnya suara dapatku dengar
dengusan-dengusan nafas yang lelah
menyatakan betapa diri ingin dihargai
Hanya kekerasan yang menutupi kelembutan
Hingga hadiryna tohmahan
Menutup cahaya mentari
Menista sinar kasih sayang
Namun…
Tidak akan pernah ada yang memahami
Selagi tiada yang cuba menyelami
Dari hati seorang insan
yang cuba untuk aku mengerti
poem by Qistina Zaini

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Hidupkah Kau
Hidupkah kau untuk mengeluh
Dari terbitnya matahari hingga terbenam
Tentang kehidupan yang tak memuaskan
Dirimu yang selalu menginginkan kenyamanan
Ataukah terbersit sekali dalam pikiranmu
Untuk sejenak sedikit bersyukur
Tentang kehidupan yang masih kau punya saat ini
Bersama dengan harta yang mungkin kau tak sadari
Karena kau sibuk mengeluh
Dan lupa untuk menghargai dan menjaga hal itu
Hidupkah kau untuk meminta
Dari buaian bayi hingga ke liang kubur
Agar dirimu diutamakan
Dan tak juga belajar bersabar
Ataukah terbersit sekali dalam keinginanmu
Untuk berusaha sendiri
Lepas dari belas kasihan orang lain
Agar dirimu tak perlu lagi mengiba
Untuk memperoleh apa yang kau inginkan
Karena kau sibuk meminta
Dan lupa memberi dan memperbaiki hal itu
Hidupkah kau untuk mencela
Dari ujung bumi hingga dasar samudera
Menuding orang melakukan kesalahan
Dan mengangkat tinggi dagumu dengan sombong
Ataukah terbersit sekali dalam hatimu
Untuk sebentar saja bercermin
Memandang kembali segala persoalan
Dengan kepala jernih tanpa prasangka
Karena kau sibuk mencela
Dan lupa untuk belajar dan memahami hal itu
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!