Pantun - sungei kampung kuantan sunyi gelap

sungei kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencair malam segenap
kilauan mengawan sungguh menawan

kampung kuantan river is quiet and dark
the fishermen's oars slice a loneliness
the fireflies melt my night away
their flame of love takes my breathe away


sungei kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencair malam segenap
kilauan bercinta meriahkan percutian

sungei kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencair malam segenap
kilauan cinta meriahkan percutian

sungei kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencair malam segenap
kilauan mengawan berentak nyanyian

sungei kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencair malam segenap
kilauan dan ketawa beretak nyanyian


sungei kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencerahkan malam segenap
kilauan keriangan berentak nyanyian

kampung kuantan sunyi gelap
dayung nelayan menghiris kesepian
kelip kelip mencair malam segenap
kilauan mengawan tanda kesucian

poem by John Tiong ChunghooReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Related quotes

Pantun - Besarnya sungei sungei sarawak (translated to Engish)

besarnya sungei sungei sarawak
bawa kita ke olympik menang menyelam
besar nya impian pemuda pemudi sarawak
untuk menang sanggup latih siang dan malam

the rivers of sarawak are big
take us to the olympics to win diving
big is the ambition of the youth in sarawak
training day and night to win

besarnya sungei sungei sarawak
sungei sarawak, sungei lupar, sungei rejang
besarnya impian pemuda pemudi sarawak
bawa kita ke olympik menang berenang

Pantum composed the day after Malaysian won bronze in 10m diving
at Olympics London 2012

poem by John Tiong ChunghooReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Malam Berawan

malam-malam berawan
malam-malam tanpa hujan bintang dan kecupan
dibawanya ku ke dinding-dinding ratapan
hingga malam menghilang yang terlihat hanya kegelapan

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Kwatrin Memandang Bulan (Indonesian)

~Requiem buat Sapto Rahardjo~

Lelaki bersandal jepit memandang bulan
Bilakah hari memadamkan baranya?
Samudera bergelombang membenamkan setiap kembara
Harapan demi harapan gugur dari rambutnya

Lelaki bersandal jepit mengepit senyap
Bulan beserta malam-malam dihatinya
Kerontang musim mengajak bicara
Nyanyian demi nyanyian menggugurkan senja

Lelaki bersandal jepit merangkai mimpinya
Mimpi melayang seperti burung camar
Menggapai langit menjatuhkan hujan
Hujan runtuh membasahi kemarau

Lelaki bersandal jepit memainkan bonang
Malam hening menggetarkan dawai
Sunyi adalah kembara
Kembara bagi seorang pecinta sejati

Lelaki bersandal jepit merangkai bunga
Bunga potong segar dalam cawan
Ikebana dan sakura, rama-rama dan kupu-kupu
Hidup dan mati berkejaran selalu*

Lelaki bersandal jepit terbaring sendiri
Rumput dan semak bersamanya
Tiada bonang dan bunga dibawanya
Hanya cinta-kasih ada dipeluknya

poem by Imam Setiaji RonoatmojoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Setelah Perayaan

Terpuruk ku di sini
Di antara debu sisa-sisa kembang api
Awan di langit malam yang gelap
Kabut asap yang mengambang
Dengan bau mesiu habis terbakar
Tak ada lagi bunga yang berpendar warna-warni
Tak ada lintasan cahaya yang bersahutan bernyanyi
Bagaikan sebuah orkestra tanpa suara
Lalu aku kembali pada kesendirian
Keramaian lamat-lamat meninggalkan diriku
Yang terlalu lamban bergerak untuk mengejar mimpi
Yang kupunya hanya hasrat yang telah mati
Menunggu sejumput percikan api
Mengenaiku kembali
Dan aku akan melesat di tengah hitamnya langit malam
Berpendar dengan membakar seluruh diriku
Lalu aku akan menghilang dalam hujan bunga api
Berharap seseorang melayangkan pandang sekali
Diriku yang telah telantar dan dilupakan
Tanpa sempat memenuhi janjiku untuk menjadi
Kembang api yang tak gagal lagi

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Illegal Logging

Bank nice bank Government Bank
hoarding my American Dollars;
safely behind steal vaulted doors
curious visiting customers, cannot see.

New customer is the giant in the clouds
counting golden eggs safely clutched away;
where is Jack in Bean Stalk ready to assault
my mythical Fort Knox, castle in the clouds?


Kampung robber robbed timber facing
boards off a near neighbours’ house;
stolen in the still of night? No it was
a brazen robbery interrupted, at 7pm.

Ebu Ebu Eda cut down her beautiful trees
but a day later in fear of kampung thieves;
climbing her bean stalk trees over garden walls
to her spacious manicured, cloud mansion in the sky.


Curse curse kampung thieves stealing
living wood from trees while Indonesian;
politicians line their pockets with profit
stolen from illegal, deforestation of Sumatera.

All Sumaterian rain forest to be cut down
so massive island can grow only palm oil;
to oil greasy hands of the rich and corrupt
Indonesia seeking to attain, number one status.


Indonesia presently placing ranked third
in international global corruption analysis?
Two barrow policy; sanctioned or illegal back
pocket; illegal rain forest logging, deforestation.

Indonesia manifest as gross
crime against mother nature;
as gross gross crime against environmental
international concerns, of global warming.


Copyright © Terence George Craddock
Kampung an Indonesian village or villager.

poem by Terence George CraddockReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Cahaya Dewa (the goddess light)

Dia cahaya dewaku..
Cahaya Hidupku..
Cahaya Jiwaku..
Menyinari aku..
Jiwaku..cintaku

Aku,

Aku
diam...

aku.
Sunyi...

Diam tanpa dia,
Sunyi tanpa hadirnya
Kerna dia...

Cahaya dewaku..cahaya hatiku
Dia mentari yang menyinar dalam gelita malamku
Dia, Surya yang bercahaya dalam sunyi hariku

Membawa pergi hatiku...
Membawa pergi jiwaku

Pergi jauh,
Jauh kealamnya
Alamnya..
Alamnya...
Yang tiada jalan kembali
Yang ada Cuma gerbang masuk
Tanpa kembali

Apa...
Apa aku harus kesana?
Mengambil semula hatiku
Jiwaku...
Cintaku..

Apa aku sanggup?

poem by Qistina ZainiReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Gelap, ... aku menanti

Sepi,
aku seketika...

menanti cahaya itu,
mungkinkah?
akan muncul lagi...

Samar...
di tepi pelita usangku;
aku menanti
mungkinkah?

mungkinkah akan kumiliki lagi cahaya itu?

Gelap sepi aku menanti
penuh debar...
entah ada
entah tidak

mungkinkah?
mungkinkah kan ku temu lagi cahaya itu...?

Gelap!
disini aku menanti
dan
menanti...

poem by Qistina ZainiReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Sebuah bom yang meledak bernama sunyi (Indonesian)

: Teungku Abdullah Syafii in memoriam
(1)

Bilakah ini harinya bom yang engkau lemparkan bersama
Butir udara berinteraksi memekatkan cinta
Yang dinamakan kesumat tak akan ada yang
Bisa kuperbuat kecuali
Menikam waktu dan sebuah bom yang
Meledak engkau sebut sunyi,
Dari lukakah mengalirkan darah
Yang engkau sebut cinta yang
Akhirnya menghantarkan
Pada kilatan api dalam ketiadaan,
Ketiadaan Teungku yang menemukan
Aliran darahnya, ketiadaan hamba tanpa sunyi,
Dan engkau lemparkan sunyi, engkau lemparkan
Kepada waktu:
Sebuah bom meledak bernama sunyi
Lalu aku mencatatnya dengan cinta

(2)

Teungku: duka duri semak ada di dadamu, cinta manakah
Yang hendak dikuburkan, aku tepiskan
Tanpa memilih hidup ini akan dikemanakan
Mungkin bersama bayang-bayang hujan lalu
Sunyi ini akan diberikan kepada siapa?
Siapakah pembunuh waktu yang tak mengerti:
Luka ini berasal juga dari Cinta
Cinta berasal muasal dari duka keabadian
Mungkin kita ini bangsa yang lupa
Bahwa bendera kita bukanlah kemenangan
Tetapi kekalahan berkepanjangan
Sebagai hamba Duli Paduka, cinta manakah?
Bagai berondongan pertanyaan ini menyergap
Dan Teungku: dekaplah damai keabadianMu

(3)

Duka sergap kematian ini semakin lekat, bila moncong menganga
Selalu berarah kepadamu, kenangan apakah
Jejak bayang-bayang hujan terlalu samar
Untuk siapakah engkau kirim kegelisahan ini
Senyap rerumputan memagut lelapmu
Sungai berdiri diam bisu
Menorehkan sederet kebahagiaan
Lewat peluru, mesiu dan bayang-bayang
Mawar, cinta dan kematian
Tak ada yang lebih menarik lagi
Tak ada yang lebih menarik lagi

(2002)

poem by Imam Setiaji RonoatmojoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Cleaning Rituals Of Clever Men

Even before the discovery of wash lets,
from the land of rising sun in the east,
Even before the invention of washrooms,
from the land of congested petty nations,
Even before the construction of squatting,
holes and the adjacent storage compartments,
There were people who discharged in the buckets,
in the palace of Buckingham.
Workers collected one pound for a bucket,
Masters sprayed the new perfume distilled.

Ladies of London had taken their clothes,
to wash in the streams and rivers,
across the town a century ago,
that the people,
from the kampung of Indonesia do
until today.
Village ladies from India,
take the sombhu early morning,
to empty their bowels before sun rise.
Village ladies from India,
go to the kulam to bathe and clean,
while their men bathe on the other side.
None ravish none,
as they have no sin.

Presence of pimps,
is the sign for poverty.
Is License to prostitute,
the sign of prosperity?
Women have this license,
and they have to renew it yearly,
in a few European countries.
Men are very clever,
to perfumed the smelling palace.
Men are very clever,
to change a woman to a whore,
on their own,
and this need is created,
by the men and for the men.
Fools are us, we, women.

Kampung is a Malay word for village.
Sombhu is water pitcher in Tamil.
Kulam means pond in Tamil

poem by Veeraiyah SubbulakshmiReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Pantun - Malam bagai intan Berkilauan

malam bagai intan berkilauan
rindu ku tidak terhingga
angin tasik memberi ku kenangan
seperti kami dah jumpa

malam bagai intan berkilauan
rindu ku tidak terhingga
angin tasik membawa kenangan
seperti kami dah jumpa

the night glitters like a diamond
the longing is endless
the wind from the lake evokes a memory
as if we have already met

poem by John Tiong ChunghooReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

I Won't Go Back (Indonesian version)

Malam ini akankah kau datang
Atau malah melupakan
Penantianku begitu panjang
Jiwaku menyerpih

Hingga tiba fakta terbentang
Yang tak dapat kau dustakan
Dan dunia seakan menghilang
Hatiku menghitam

Takkan kembali
Takkan merajut asa di diri
Karena ku telah temui
Jalan sepiku sendiri
Tanpa dirimu

Takkan menangis
Walau malam dingin tak terperi
Karena ku telah sadari
Semua berakhir di sini
Bersama cintamu

Ingin cinta semua kubuang
Timpakan semua kesalahan
Dan ku kan menjadi pemenang
Tapi ku tak tenang

Ingin benci tumbuh berkembang
Menutupi semua kenangan
Indah tapi begitu mencengkeram
Dan ku tak tahan

Takkan kembali
Takkan merajut asa di diri
Karena ku telah temui
Jalan hidupku sendiri
Tanpa dirimu

Takkan sesali
Meski ingin kuulang kembali
Karena semua memori
Hanyalah sebuah memori
Yang kan berlalu

Malam ini akankah kau datang
Atau malah melupakan
Kini kau hanya sebuah bayang
Dan pagi menjelang

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Pantun - Senyuman sehalus Embun (translated into English)

senyuman sehalus embun
melekat di daun memori
tertulis dalam sebaris pun
kilauan mencahayakan hari

translation...
smile delicate as dew
sticks to a leaf of memory
even if written in one line
brightens up the day

poem by John Tiong ChunghooReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Mantra Hujan

Hujan, terus hujan sepanjang hari
Hujan yang tak henti
Seperti ingin mendinginkan bumi yang panas
Hingga kembali mengeras
Atau malah ingin menguasai dunia
Dengan melapukkan manusia

Hujan, terus hujan sepanjang hari
Hujan yang tak henti
Seperti ingin meminta hati yang sepi
Turut serta dalam nyanyian sunyi
Atau malah ingin menarik jiwa yang tak peduli
Masuk ke dalam tidur abadi

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Pantun - Arus deras sungei Klang setelah hujan lebat (translated to English)

arus deras setelah hujan lebat
cepat ubah wajahnya sungei klang
bagai kuala lumpur di susuli ekonomi pesat
dulu pekerja ladang skrang towkay kilang

the water is treacherous after the rain
the klang river is fast to change her image
like kuala lumpur after the fast economic progress
those farmers some are now factory owners

arus deras sungei klang setelah hujan lebat
bagai kuala lumpur di susuli ekonomi hebat
bangunan tingi lambang pembagunan pesat
ibu kota yang mulai dari lumpur ke suatu pusat

river klang is choppy after a bout of rain
like kuala lumpur after its economic growth
high buildings are signs of development
the city that grows from a mud estuary to an important centre

poem by John Tiong ChunghooReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Tenggelam

Tenggelam
Rasa yang ada menghilang
Jiwaku kan tertelan
Kesepian

Menghujam
Diserang jurang kegelapan
Tertatih coba tuk pulang
Sendirian

Dan ku kan bertahan
Walau badai menerjang
Ku tetap genggam harapan
Ku kan jauh terbang

Dan ku kan berjalan
Meski pedih terus membayang
Ku yakin di depan ada jalan
Yang bersinar dan terang

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Pantun - Biru Gelap Air di Laut Manukan (translated into English)

biru gelap laut di Pulau Manukan
dakwat berkesudahan untuk bina seni
cendekiawan jangan lupa tunaikan
bimbing kita ke lautan minda berisi

the sea water of Manukan Island is dark blue
a great supply to write about the arts
writers and intellectuals dont forget
to guide us to the sea of rich thoughts

poem by John Tiong ChunghooReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Pantun - Laut Manukan sebotol dakwat biru (translated to English)

laut di Manukan sebotol dakwat biru
gelombang biru gelap di ambang seni
cendekiawan yang sana jangan lupa buru
bimbing kita ke lautan minda berisi

the sea at Manukan is a bottle of blue ink
waves of dark blue in the lane of art
the intellectuals there please dont forget
lead us to the sea of mind that is filled with great things

poem by John Tiong ChunghooReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Pantun - Air Sungei Menyinar Yinar (Translated Into English)

air sungei menyinar yinar
menyusul gunung dan rimba
impian seluas laut di kejar
cekap, sabar sampai ku tiba
(malay language)

the water in the river sparkles
it runs by the mountain and forest
a dream wide as the sea i am chasing
efficient, patience, till i arrive

poem by John Tiong ChunghooReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Senja kala

Senja kala di padang gema
Aku lupa rupa sang suara
Bisikan merayu di telinga
Atau angin ribut dari utara

Senja kala di batas jumpa
Aku lupa tanda sang cinta
Getaran bunga pertama
Atau gelora bulan purnama

Senja kala di ujung dupa
Aku lupa nada sang jiwa
Harum mewarnai dunia
Atau asap melayang di mata

Senja kala di jembatan tua
Aku lupa wangi sang gula
Manis melekat saat tertawa
Atau pahit di luka menganga

Senja kala di lubuk malam
Aku lupa belai sang cahaya
Kilau permata di laut tenang
Atau semburat merah di langit hitam

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Where?

Dimanakah dirimu berada?
Di sepoi harum rumput habis dipotong
Di kertak dedaunan kering siap dibakar
Di keremangan hutan diterangi api unggun malam
Dimanakah pikiranmu berada?
Di persimpangan jalan menatap ranting penunjuk terabaikan
Di selubung sejuknya pembaringan tua yang nyaman
Di langit-langit kamar penuh bercak coklat yang liar
Dimanakah hatimu berada?
Di deru suara mesin motor yang perlahan menghilang
Di lubang kecil tersembunyi mengkerutkan senyuman
Di keringnya danau air mata dan impian

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share