Cahaya Dewa (the goddess light)

Dia cahaya dewaku..
Cahaya Hidupku..
Cahaya Jiwaku..
Menyinari aku..
Jiwaku..cintaku

Aku,

Aku
diam...

aku.
Sunyi...

Diam tanpa dia,
Sunyi tanpa hadirnya
Kerna dia...

Cahaya dewaku..cahaya hatiku
Dia mentari yang menyinar dalam gelita malamku
Dia, Surya yang bercahaya dalam sunyi hariku

Membawa pergi hatiku...
Membawa pergi jiwaku

Pergi jauh,
Jauh kealamnya
Alamnya..
Alamnya...
Yang tiada jalan kembali
Yang ada Cuma gerbang masuk
Tanpa kembali

Apa...
Apa aku harus kesana?
Mengambil semula hatiku
Jiwaku...
Cintaku..

Apa aku sanggup?

poem by Qistina ZainiReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Related quotes

Cahaya…ku Matahari..ku

cahayaku
matahariku…
Dia matahariku,
Dia cahaya itu…

Dia yang muncul saat hati masih mencari
Dia yang muncul kala hati hilang arti

Saat pertama kulihat cahaya itu
Betapa hati meragui
Betapa hati membenci
Betapa hati ingin dia pergi

Namun akhirnya aku sedar
Dia cahaya itu
Cahayaku

Penerangku
Cahayaku…

Kini dia ingin pergi
Adakah dia yang pergi
Atau aku?
Atau aku yang meninggalkannya

Cahayaku
Matahariku

poem by Qistina ZainiReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Dalam Rindu

Bersamamu
Lalui hari-hari itu
Arungi lautan waktu
Dalam lagu

Dan cintaku
Sepertinya takkan layu
Bila kau tetap di hatiku
Dalam rindu

Kasihku
Kuingin sedikit kau tahu
Betapa berharga dirimu
Dalam hidupku

Tapiku
Tak ingin selalu menunggu
Gelisah dan tak menentu
Dalam ragu

Bersamamu
Meski kadang terasa pilu
Bagai tertusuk sembilu
Jiwaku sendu

Dan cintaku
Kuatkan raga dan jiwaku
Hadapi hari kelabu
Hujan dan salju

Kasihku
Coba kau dengarkan aku
Jangan terus hindariku
Lihat diriku

Karna ku
Tak ingin selalu terpaku
Hanya diam dan mengadu
Dalam kalbu

Akankah
Kau hapus semua gundah
Bagaikan sebuah anugerah
Ataukah itu hanya kata-kata indah

Kasihku
Kuingin sedikit kau tahu
Betapa berharga dirimu
Dalam hidupku

Tapiku
Tak ingin selalu menunggu
Gelisah dan tak menentu
Dalam ragu

Bersamamu
Lalui hari-hari itu
Dan kau tetap di hatiku
Dalam rindu

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Setelah Perayaan

Terpuruk ku di sini
Di antara debu sisa-sisa kembang api
Awan di langit malam yang gelap
Kabut asap yang mengambang
Dengan bau mesiu habis terbakar
Tak ada lagi bunga yang berpendar warna-warni
Tak ada lintasan cahaya yang bersahutan bernyanyi
Bagaikan sebuah orkestra tanpa suara
Lalu aku kembali pada kesendirian
Keramaian lamat-lamat meninggalkan diriku
Yang terlalu lamban bergerak untuk mengejar mimpi
Yang kupunya hanya hasrat yang telah mati
Menunggu sejumput percikan api
Mengenaiku kembali
Dan aku akan melesat di tengah hitamnya langit malam
Berpendar dengan membakar seluruh diriku
Lalu aku akan menghilang dalam hujan bunga api
Berharap seseorang melayangkan pandang sekali
Diriku yang telah telantar dan dilupakan
Tanpa sempat memenuhi janjiku untuk menjadi
Kembang api yang tak gagal lagi

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Difahami

Dalam kekerasan hati aku lihat ada kelembutan
yang tak pernah dapat terungkai
Dalam pedasnya kata-kata aku lihat kasih sayang yang
tak pernah dapatku mengerti
Dalam tajamnya renugan mata kulihat sinar
Matahari yang terik menyinari menyatakan
Betapa hati ingin dimengerti
Dalam halusnya suara dapatku dengar
dengusan-dengusan nafas yang lelah
menyatakan betapa diri ingin dihargai

Hanya kekerasan yang menutupi kelembutan
Hingga hadiryna tohmahan
Menutup cahaya mentari
Menista sinar kasih sayang

Namun…
Tidak akan pernah ada yang memahami
Selagi tiada yang cuba menyelami
Dari hati seorang insan
yang cuba untuk aku mengerti

poem by Qistina ZainiReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

I Won't Go Back (Indonesian version)

Malam ini akankah kau datang
Atau malah melupakan
Penantianku begitu panjang
Jiwaku menyerpih

Hingga tiba fakta terbentang
Yang tak dapat kau dustakan
Dan dunia seakan menghilang
Hatiku menghitam

Takkan kembali
Takkan merajut asa di diri
Karena ku telah temui
Jalan sepiku sendiri
Tanpa dirimu

Takkan menangis
Walau malam dingin tak terperi
Karena ku telah sadari
Semua berakhir di sini
Bersama cintamu

Ingin cinta semua kubuang
Timpakan semua kesalahan
Dan ku kan menjadi pemenang
Tapi ku tak tenang

Ingin benci tumbuh berkembang
Menutupi semua kenangan
Indah tapi begitu mencengkeram
Dan ku tak tahan

Takkan kembali
Takkan merajut asa di diri
Karena ku telah temui
Jalan hidupku sendiri
Tanpa dirimu

Takkan sesali
Meski ingin kuulang kembali
Karena semua memori
Hanyalah sebuah memori
Yang kan berlalu

Malam ini akankah kau datang
Atau malah melupakan
Kini kau hanya sebuah bayang
Dan pagi menjelang

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Laut Di Tengah Keajaiban Musim Dingin

Meski angin bertiup kencang dan air laut mengamuk dashyat
Esok hari adalah suatu hari yang baru
Kau akan mengalirkannya
Meski dipisahkan oleh angin yang bertiup kencang
maupun ombak yang besar
Itulah pelosok pulau tempat orang yang kita cintai menunggu
Kau akan mengalirkannya
Ke hatimu
Nun jauh di balik bayang-bayang pulau
Di tengah laut yang arusnya deras
Burung putih akan membawa kembali arwah kekasih yang telah tiada
Membawa kembali
Suatu hari akan jatuh cinta pada seseorang
Meski ombak di laut ganas diterpa tiupan angin
Mencintai seseorang
Bukalah hatimu sekali lagi
Meski awan di langit jauh dari jangkauan
Kalau hati terbang jauh, cinta pun akan datang menjemput
Perasaan di dalam hati itu
Pasti akan sampai di pangkuanmu
Meski jaraknya jauh sekalipun

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Mantra Hujan

Hujan, terus hujan sepanjang hari
Hujan yang tak henti
Seperti ingin mendinginkan bumi yang panas
Hingga kembali mengeras
Atau malah ingin menguasai dunia
Dengan melapukkan manusia

Hujan, terus hujan sepanjang hari
Hujan yang tak henti
Seperti ingin meminta hati yang sepi
Turut serta dalam nyanyian sunyi
Atau malah ingin menarik jiwa yang tak peduli
Masuk ke dalam tidur abadi

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Cinta tak termiliki

Cinta…

Sendirian aku termenung
Mengenang dia yang tak termiliki
Sendirian…..
Sendiri aku lagi dalam kegelapan
dalam kekosongan jiwa yang nyata
tanpa dia….


Cinta, aku sendiri
Mencintainya, cinta..aku …..cinta
Tapi
Sendiri aku terus…
Tenggelam aku dalam renungan bundar matanya
Betapa redupnya…betapa indahnya
Tapi sendiri aku terus…
Mengenang dia yang tak termiliki


Bahgia bila mendengar bicaranya…
Tapi…
Lemah tanpa suaranya
Syurga aku lihat senyumnya
tapi…
Sedih bila hadapi amarahnya
Bangga aku dengar pujinya
Tapi…
Kecewa bila kudengar sindirnya


Ingin aku mengenalnya
Ingin aku milikinya
Ingin aku cintainya
Tanpa dia tau …
Tanpa dia mengerti…


Betapa dekat hadirnya, tapi.. jauh jiwanya
Ingin kusentuh selalu biar hati tenang
Biar jiwa lapang…
Tapi termenung aku terus mengenang cinta
Yang tak termiliki….

Hati ingin miliki
Hati ingin …. Hati ingin
Tapi termenung aku terus
Dibalik tabir jiwa yang tak mungkin aku miliki….

poem by Qistina ZainiReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Sebuah bom yang meledak bernama sunyi (Indonesian)

: Teungku Abdullah Syafii in memoriam
(1)

Bilakah ini harinya bom yang engkau lemparkan bersama
Butir udara berinteraksi memekatkan cinta
Yang dinamakan kesumat tak akan ada yang
Bisa kuperbuat kecuali
Menikam waktu dan sebuah bom yang
Meledak engkau sebut sunyi,
Dari lukakah mengalirkan darah
Yang engkau sebut cinta yang
Akhirnya menghantarkan
Pada kilatan api dalam ketiadaan,
Ketiadaan Teungku yang menemukan
Aliran darahnya, ketiadaan hamba tanpa sunyi,
Dan engkau lemparkan sunyi, engkau lemparkan
Kepada waktu:
Sebuah bom meledak bernama sunyi
Lalu aku mencatatnya dengan cinta

(2)

Teungku: duka duri semak ada di dadamu, cinta manakah
Yang hendak dikuburkan, aku tepiskan
Tanpa memilih hidup ini akan dikemanakan
Mungkin bersama bayang-bayang hujan lalu
Sunyi ini akan diberikan kepada siapa?
Siapakah pembunuh waktu yang tak mengerti:
Luka ini berasal juga dari Cinta
Cinta berasal muasal dari duka keabadian
Mungkin kita ini bangsa yang lupa
Bahwa bendera kita bukanlah kemenangan
Tetapi kekalahan berkepanjangan
Sebagai hamba Duli Paduka, cinta manakah?
Bagai berondongan pertanyaan ini menyergap
Dan Teungku: dekaplah damai keabadianMu

(3)

Duka sergap kematian ini semakin lekat, bila moncong menganga
Selalu berarah kepadamu, kenangan apakah
Jejak bayang-bayang hujan terlalu samar
Untuk siapakah engkau kirim kegelisahan ini
Senyap rerumputan memagut lelapmu
Sungai berdiri diam bisu
Menorehkan sederet kebahagiaan
Lewat peluru, mesiu dan bayang-bayang
Mawar, cinta dan kematian
Tak ada yang lebih menarik lagi
Tak ada yang lebih menarik lagi

(2002)

poem by Imam Setiaji RonoatmojoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Terbang

Terbang lepas
Terbang bebas

Bila masih kulihat cahaya
Terpancar di depan sana
Aku kan segera
Bangkit dan membawa
Semua harapan di dada

Bila satu patah kata
Yang kutunggu tlah tiba
Aku kan segera
Meluncur bersama
Mimpi yang luar biasa

Terbang lepas
Terbang bebas
Jauh
Dan melayang
Di langit luas
Jauh

Kan kulihat semua
Dunia yang sangat indah
Kan kuingat dirinya
Dia sangat kucinta

Bila nanti langkahku terhenti
Kau tinggalkan ku sendiri
Aku takkan goyah
Tak pernah menyerah
Karena hidup belum berakhir

Dan ku kan
Terbang lepas
Terbang bebas
Jauh
Dan melayang
Di langit luas
Jauh

Kan kulihat semua
Dunia yang sangat indah
Kan kuingat dirinya
Dia sangat kucinta

Oh, terbang lepas
Terbang bebas

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Manusia

Manusia

Manusia kau sering terlupa
Telupa akan erti hidup mu
Terlupa akan erti kemanusiaan
Terlupa akan maksud kewujudan mu

Keghairanmu mengejar dunia,
Membuatkau lupa, alpa
Kau lupa pada saudara-maramu
Kau lupa pada insan disekelilingmu
Kau lupa pada usia yang semakin meningkat
Kau lupa pada amal ibadatmu
Kau lupa,
Kau lupa pada TUHAN

Manusia,
Tanpa kau sedari kau telah pergi…
Pergi jauh meninggalkan dunia
Kau pergi tanpa kau sedari…!

Dalam sekelip mata kau hilang segalanya
Dalam sekelip mata keindahan dunia lenyap dari pandanganmu,

Kau menangis,
Tapi untuk apa?
Kau meratap
Tapi untuk siapa?

Penyesalanmu sudah terlambat
Pada siapa ingin kau ingin meminta…

Pandanganmu kosong!
Ratapanmu sayu…
Tangisanmu pilu!

Tiada siapa yang bias mendengarmu
Tiada siapa yang bisa melihat kehadiranmu
Hanya kau disitu
Menatap sayu insan-insan di sekelilingmu….
Menatap sayu sekujur tubuh kaku disisi mereka
Tapi?
Tapi itu tubuh siapa?

Itu kau!
Itu kau! ! !

Tubuh kaku itu milikmu
Kau menjeit memanggil mereka
Tapi sadarlah…
Mereka tidak bisa mendengar apalagi melihatmu…

“Hey aku disini, lihatlah aku. Aku disini pandanglah aku”
Tiada gunanya kau menjerit!
Tiada gunanya kau meminta! ! !

Percuma saja kau mencuba…
Kau bukan lagi sebahagian dari mereka…
Mereka hanya bisa memandang sekujur tubuh kaku itu saja,


Kau hanya berdiri disitu..
Menantia apa atau siapa..,
yang akan menjemput mu pulang
pulang

Pulang keasal mu.

poem by Qistina ZainiReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Tenggelam

Tenggelam
Rasa yang ada menghilang
Jiwaku kan tertelan
Kesepian

Menghujam
Diserang jurang kegelapan
Tertatih coba tuk pulang
Sendirian

Dan ku kan bertahan
Walau badai menerjang
Ku tetap genggam harapan
Ku kan jauh terbang

Dan ku kan berjalan
Meski pedih terus membayang
Ku yakin di depan ada jalan
Yang bersinar dan terang

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Warna Cinta

Kini
Aku terdiam terhenti
Tenggelam di dalam sepi
Dan ku bermimpi

Nanti
Pasti kudapat kembali
Pengganti yang telah pergi
Dan ku mengerti

Meski kubuang semua
Segala rasa di dada
Semakin tertinggal hampa
Yang menekan jiwa

Meski kututup semua
Kenangan tersisa
Semakin ku lupa cara
Bahagia

Suatu hari
Siapapun yang kunanti
Kan membawaku pergi
Hapuskan pedih

Meski tak selamanya mudah
Tapi layak dicoba
Karena ku butuh cinta
Tuk penuhi jiwa

Meski kau bilang ku buta
Dan ku kan terluka
Tapi itu pun warna
Dunia

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Diam-Diam

Diam-diam aku
Menulis setetes air bening
di ujung alismu
Di kedua bola mataku

Diam-diam aku tahu
Pura-pura tak peduli
Kau melirik ujung rambutku
Dan kuintip senyummu dalam hati
Diam-diam dirimu
Menanam duri-duri kecil
Dengan alis dan tatapmu di mataku

Diam-diam kau berteduh
Pura-pura tak merasakan adaku
Kau merawat duri
Aku menikmati
Kau membuat perih
Aku tersenyum
Diam-diam tak acuh
Pura-pura tak terjadi sesuatu

Pun
Diam-diam aku
Sunyi dalam ruang pekat
Tanpa kau pura-pura melirik
Dan menatapku
Ada rindu disini
Bila kau tak bawa duri
Dan perih di mataku
Dengan ujung alismu

Lalu,
Diam-diam aku
Tersenyum menikmati perih
Pura-pura tak merasa tatapmu

R.410,05 Desember 2011

poem by Selendang SulaimanReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Menatap lurus matamu (Indonesian)

lalu belajar mengerti dari awal,
membaca kembali ejaan yang tak pernah kau berikan,
karena sebagaimana pengertian dari awalnya
bermula dari keterpaksaan,
penderitaan yang dijalani,
akar tunjang yang membelit tumbuh
di pokok batangnya,
rumput yang tumbuh
di segala musim,
kerelaan yang tumbuh
dari bola matamu,
memperkaitkan sepi pada pengertian,
alam benda-benda yang ada di kerajaan hati,
entah berapa kali aku mengemis padamu,
jangan buatkan sarang laba-laba yang menjebakku,
jadi magsamu,
terpikat masuk ke bola matamu,
terjebak sukma ruhmu,
melewati aliran nadi,
memenuhi hasrat,
pelajaran apalagi ini?
bermula dari kekosongan mengisi setiap rongga jiwa,
penderitaan adalah awal persetubuhan,
persetubuhan yang akan menjadi puing-puing
kenangan dalam matamu,
hendakkah kau buang,
bagi matamu yang penyair,
barangkali akan tinggalkan sebagai kata,
yang kembali dieja dengan apa saja judul puisimu,
tetapi tetap saja persetubuhan kita tak kekal,
hanya kekal dalam matamu dan mataku,
suatu kali kita bangun kerajaan dalam semalam,
aku puaskan membangunkan pualam istana,
cuma dalam matamu,
setelah kekeringan yang punah,
dibakar, apalagi ini?
lalu belajar mengerti kembali…..

(2001)

poem by Imam Setiaji RonoatmojoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Cinta Beku

Aku takkan berikan hatiku pada dirimu
Aku takkan buka lembaran cinta bersamamu
Karena ku tahu
Hanya pedih yang kan ku rasakan
Karena ku tahu
Bukan cinta tulus yang kau jalin denganku

Aku takkan berpaling meski kau inginkan aku
Aku takkan tersentuh meski kau rayu diriku
Meski senyummu
Buai ku dan ku terlena
Meski sepiku
Ingin hangatnya perasaan itu

Sudahlah
Jangan paksa lagi diriku
Jadi sudahlah
Pergilah kau dari hidupku

Pernah ku bermimpi kau yang selalu kutunggu
Dan ku terhanyut dalam khayalan semu
Ku tak tahu
Mana dirimu yang sesungguhnya
Ku tak tahu
Dapatkah ku percaya padamu

Sudahlah
Biarkan semua berlalu
Jadi sudahlah
Bawa jauh cerita itu

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

From Far Away: Jeida's Speech

Dunia ini luas
Bermacam-macam orang hidup dengan memegang cara pikirnya masing-masing
Di tempat yang tidak diketahui
Aku adalah bagian darinya juga
Aku dulu bermaksud menjalankan dunia seorang diri
Aku benar, tapi entah kenapa tak bisa menjalankan apa yang aku inginkan
Aku pernah hidup dalam kerisauan dan ratap tangis
Tapi mungkin karena aku dulu seperti ingin memasangkan dunia yang luas ini ke dalam bingkai yang kecil yaitu aku
Beban di pundakku telah kulepaskan
Sekarang aku akan mencari peranku sendiri
Tanpa tergesa-gesa, tanpa ambisi
Dengan santai
Sambil menjejakkan kaki di tanah

from kanata kara

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Wajah Pagi di Wajahmu yang Malam Memancar Cahaya Malammu di Wajah Pagi

Sudah berapa banyak angka dari kalender
Merawat nyeri dari luka paragraf soliloqui
Pada bangunan yang dipurbakan
Setiap jeda waktu terteriak di mulutmu
Serupa dengung tawon dalam hutan
Deru suaramu meruwat perjalanan ngilu

Ngilu: Kau ceritakan lagi pagi ini
Seperti pagi yang lalu tanpa ingata
Mungkin di pagi yang lain, insomniamu
Dan kamu akan datang lagi, ceritakan nyeri
Pada kematian di hamparan panggung teater lengang
Lalu tegang di wajahmu
Lalu tenang seolah-olah
Pada bait-bait puisi
Yang kau sesalkan sebelum tidur
Lalu mimpi buruk melumat sesal
Sembunyikan ketakutan di bibirmu

Bibirmu: Cerita ngilu di sebuah pagi
"pada akhirnya batang tubuh berakal ini
menjadi analog-analog kecil dalam satwa
yang kau juga aku mengembunkannya
pada imajinasi untuk sesuap nasi."

Kau diam sebentar, bercakap kecil
Kulihat ke dalam matamu, ada luka

"Luka itu kawan, yang membuat senyum
di kanvas pagi yang ngilu pada ceritaku
selain luka tak ada lagi untuk sebuah cerita
dan kenangan hanya maut yang tak kukenal."

Kata-katamu menetaskan api pagi ini
Sebagaimana aksara di bibir penyair itu
Telah membakar puisi dan mengabu kini
Terhempas ke ladang-ladang petani
Terhimpit map-map plastik di kantor-kantor
Menempel di wajahmu sendiri
Pagi ini, lembut. Legam.

Kau diam kemudian
Sambil menunjuk jari ke tubuh ayam betina
Yang mencari makan sisa angin dan embun segar semalam
Jika hujan tak membawanya pergi
Dan kau tak mencolongnya untuk sepenggal diksi

"Lihatlah ayam betina itu, tenang dan tentram."

Sebab tak punyai kata-kata untuk luka
Maka waktu mengisi nyeri
pada jeritan sebelum subuh
Dan segala seperti mula asal
Bangkit lagi, kematian tak berupa
Bahkan catatan dikosongkan
Untuk nama-nama luka
Sesiang nanti, hari tak berharapan
Hari tanpa pangkuan
Selain hanya ceritamu

Yogyakarta,2011-2012

poem by Selendang SulaimanReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Padam

Apa yang kau dapatkan, hargailah
Apa yang dipinjam, kembalikan
Sebelum semuanya menghilang
Dan api di dalammu padam
Apa yang kau simpan, rawatlah
Apa yang kau buang, relakan
Bila api di dalam dirimu telah padam
Kenangan pun tak lagi bisa membakar
Mimpi pun tak bisa lagi bersinar
Jadi jangan berhenti dulu
Sebab dewa masih memberimu waktu
Sebelum semuanya memudar
Dan api di dalammu padam

Apa yang kau inginkan, kejarlah
Apa yang kau takuti, hadapi
Sebelum semuanya menghilang
Dalam kegelapan yang kelam
Apa yang kau jaga, sayangilah
Apa yang kau benci, tangisi
Karena bila api yang ada telah padam
Ingatan pun tak lagi berarti
Jalan yang lebar pun tak lagi menarik
Jadi jangan mencemaskan hal yang tak perlu
Sebab meski terlihat tak ada waktu
Dan angin tak mau membantu
Kobaran di dadamu masih belum padam

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share

Hidupkah Kau

Hidupkah kau untuk mengeluh
Dari terbitnya matahari hingga terbenam
Tentang kehidupan yang tak memuaskan
Dirimu yang selalu menginginkan kenyamanan
Ataukah terbersit sekali dalam pikiranmu
Untuk sejenak sedikit bersyukur
Tentang kehidupan yang masih kau punya saat ini
Bersama dengan harta yang mungkin kau tak sadari
Karena kau sibuk mengeluh
Dan lupa untuk menghargai dan menjaga hal itu

Hidupkah kau untuk meminta
Dari buaian bayi hingga ke liang kubur
Agar dirimu diutamakan
Dan tak juga belajar bersabar
Ataukah terbersit sekali dalam keinginanmu
Untuk berusaha sendiri
Lepas dari belas kasihan orang lain
Agar dirimu tak perlu lagi mengiba
Untuk memperoleh apa yang kau inginkan
Karena kau sibuk meminta
Dan lupa memberi dan memperbaiki hal itu

Hidupkah kau untuk mencela
Dari ujung bumi hingga dasar samudera
Menuding orang melakukan kesalahan
Dan mengangkat tinggi dagumu dengan sombong
Ataukah terbersit sekali dalam hatimu
Untuk sebentar saja bercermin
Memandang kembali segala persoalan
Dengan kepala jernih tanpa prasangka
Karena kau sibuk mencela
Dan lupa untuk belajar dan memahami hal itu

poem by Maria SudibyoReport problemRelated quotes
Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Share