Jangan maksa
Jangan maksa cuma keinginan kita
Kalau kamu juga tidak mau dipaksa-paksa
Jangan maksa bersikap ceria
Kalau sedang tak ingin tertawa
Jangan maksa ngebut di jalan raya
Kalau nantinya malah celaka
Jangan maksa kelihatan kaya
Kalau hanya untuk gaya
Jangan maksa apa pun juga
Karena hasilnya pasti sia-sia
Jangan maksa tentang rasa suka
Karena cinta datang dengan rela
Jangan maksa tetap menderita
Karena hati bisa lebih keras dari baja
Jangan maksa tapi tanpa usaha
Karena keberuntungan bukan cara
Jangan maksa semua harus sempurna
Yang penting bermakna dan berguna
Jangan maksa anak-anak cepat dewasa
Biarkan mereka tumbuh apa adanya
Jangan maksa merasa punya kuasa
Tetap bersama saja sudah luar biasa
Jangan maksa menjadi serupa
Berbeda bukan hal yang hina
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Related quotes
Jangan Macam Macam dengan Nyawa
Jangan macam-macam
Di tubuhmu ada nyawa
Jangan terlena
Meski kau punya semua
Dalam sekejap mata
Semua bisa tak berguna
Saat maut menyapa
Jangan macam-macam
Di tanganmu ada nyawa
Tapi bukan kau punya
Meski kau tak peduli
Nanti pasti kau sesali
Bila ia akhirnya pergi
Dan takkan kembali
Jangan macam-macam
Di depanmu ada nyawa
Yang juga punya harga
Mesli kau tak mengerti
Karena belum kau kenali
Saat kau membuka diri
Kau akan menemukan arti
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Unholy Man
Meski kau bukan orang tersuci
Meski kau bukan orang terhebat
Setidaknya ada orang yang
Sepenuh hati mencintaimu
Setulus hati menyayangimu
Jadi jangan kau siakan air matanya
Jangan kau siakan penantiannya
Meski kau bukan orang yang paling baik
Meski kau bukan orang yang tertulus di dunia
Setidaknya kau masih punya
Rasa di dalam hatimu
Denyut hidup di dalam darahmu
Jadi jangan kau siakan dengan harga diri
Jangan kau siakan dengan segala kemunafikan
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Jangan Malu-Malu
Jangan malu-malu
Lepaskan sepatumu
Lelehkan lantai yang beku
Dengan hentakan kakimu
Jangan ragu-ragu
Bila tak seorang pun bersamamu
Tak usah merasa malu
Bila mimpi tak sesuai keinginanmu
Jangan malu-malu
Buang semua ragu
Alunkan sebuah lagu
Untuk mengusir hati yang pilu
Jangan ragu-ragu
Bila kau inginkan sesuatu
Tunjukkanlah bila perlu
Tekadmu yang sekeras batu
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Politik Empiris
Orang narsis
Jangan sok eksis
Bikin orang meringis
Sampai ingin menangis
Orang politis
Jangan sok kritis
Cuma bikin krisis
Sampai sakit psikis
Para gadis
Jangan hanya manis
Belajarlah sedikit egois
Berjuang sampai habis
Para sinis
Tetaplah sedikit sadis
Walau hujan gerimis
Menambah rona puitis
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Cinta Beku
Aku takkan berikan hatiku pada dirimu
Aku takkan buka lembaran cinta bersamamu
Karena ku tahu
Hanya pedih yang kan ku rasakan
Karena ku tahu
Bukan cinta tulus yang kau jalin denganku
Aku takkan berpaling meski kau inginkan aku
Aku takkan tersentuh meski kau rayu diriku
Meski senyummu
Buai ku dan ku terlena
Meski sepiku
Ingin hangatnya perasaan itu
Sudahlah
Jangan paksa lagi diriku
Jadi sudahlah
Pergilah kau dari hidupku
Pernah ku bermimpi kau yang selalu kutunggu
Dan ku terhanyut dalam khayalan semu
Ku tak tahu
Mana dirimu yang sesungguhnya
Ku tak tahu
Dapatkah ku percaya padamu
Sudahlah
Biarkan semua berlalu
Jadi sudahlah
Bawa jauh cerita itu
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Padam
Apa yang kau dapatkan, hargailah
Apa yang dipinjam, kembalikan
Sebelum semuanya menghilang
Dan api di dalammu padam
Apa yang kau simpan, rawatlah
Apa yang kau buang, relakan
Bila api di dalam dirimu telah padam
Kenangan pun tak lagi bisa membakar
Mimpi pun tak bisa lagi bersinar
Jadi jangan berhenti dulu
Sebab dewa masih memberimu waktu
Sebelum semuanya memudar
Dan api di dalammu padam
Apa yang kau inginkan, kejarlah
Apa yang kau takuti, hadapi
Sebelum semuanya menghilang
Dalam kegelapan yang kelam
Apa yang kau jaga, sayangilah
Apa yang kau benci, tangisi
Karena bila api yang ada telah padam
Ingatan pun tak lagi berarti
Jalan yang lebar pun tak lagi menarik
Jadi jangan mencemaskan hal yang tak perlu
Sebab meski terlihat tak ada waktu
Dan angin tak mau membantu
Kobaran di dadamu masih belum padam
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Because of Love? (Indonesian Version)
Sering kali ingin kucoba mengerti dirimu
Namun semakin ku tak dapat mengerti kau begitu
Kadang kau mesra, kadang kau cemburu buta
Kadang kau dekat, kadang kau tak peduli
Tapi ku tak dapat mengerti diriku sendiri
Yang tetap di sampingmu walaupun kau begitu
Kadang ku bosan, kadang ku melayang
Kadang ku gundah
Apa yang membuat kita bersama?
Karena cinta
Ataukah mungkin rasa iba
Karena suka
Ataukah sudah terbiasa
Kita hidup dengan saling menerima
Berapa kali pun kucoba menghapus dirimu
Namun semakin kuhampa di dalam hatiku
Kurindu senyummu, kutelan pahitmu
Kuingin hangatmu, kutakut kehilanganmu
Mungkin kau juga pernah bertanya dalam hatimu
Masihkah ku berguna dalam hidupmu
Meski ku peragu, meski ku tak sempurna
Meski ku sakiti
Apa yang membuat kita bertahan?
Karena cinta
Ataukah mungkin rasa iba
Karena suka
Ataukah sudah terbiasa
Kita hidup dengan saling percaya
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Menatap lurus matamu (Indonesian)
lalu belajar mengerti dari awal,
membaca kembali ejaan yang tak pernah kau berikan,
karena sebagaimana pengertian dari awalnya
bermula dari keterpaksaan,
penderitaan yang dijalani,
akar tunjang yang membelit tumbuh
di pokok batangnya,
rumput yang tumbuh
di segala musim,
kerelaan yang tumbuh
dari bola matamu,
memperkaitkan sepi pada pengertian,
alam benda-benda yang ada di kerajaan hati,
entah berapa kali aku mengemis padamu,
jangan buatkan sarang laba-laba yang menjebakku,
jadi magsamu,
terpikat masuk ke bola matamu,
terjebak sukma ruhmu,
melewati aliran nadi,
memenuhi hasrat,
pelajaran apalagi ini?
bermula dari kekosongan mengisi setiap rongga jiwa,
penderitaan adalah awal persetubuhan,
persetubuhan yang akan menjadi puing-puing
kenangan dalam matamu,
hendakkah kau buang,
bagi matamu yang penyair,
barangkali akan tinggalkan sebagai kata,
yang kembali dieja dengan apa saja judul puisimu,
tetapi tetap saja persetubuhan kita tak kekal,
hanya kekal dalam matamu dan mataku,
suatu kali kita bangun kerajaan dalam semalam,
aku puaskan membangunkan pualam istana,
cuma dalam matamu,
setelah kekeringan yang punah,
dibakar, apalagi ini?
lalu belajar mengerti kembaliā¦..
(2001)
poem by Imam Setiaji Ronoatmojo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
I Won't Go Back (Indonesian version)
Malam ini akankah kau datang
Atau malah melupakan
Penantianku begitu panjang
Jiwaku menyerpih
Hingga tiba fakta terbentang
Yang tak dapat kau dustakan
Dan dunia seakan menghilang
Hatiku menghitam
Takkan kembali
Takkan merajut asa di diri
Karena ku telah temui
Jalan sepiku sendiri
Tanpa dirimu
Takkan menangis
Walau malam dingin tak terperi
Karena ku telah sadari
Semua berakhir di sini
Bersama cintamu
Ingin cinta semua kubuang
Timpakan semua kesalahan
Dan ku kan menjadi pemenang
Tapi ku tak tenang
Ingin benci tumbuh berkembang
Menutupi semua kenangan
Indah tapi begitu mencengkeram
Dan ku tak tahan
Takkan kembali
Takkan merajut asa di diri
Karena ku telah temui
Jalan hidupku sendiri
Tanpa dirimu
Takkan sesali
Meski ingin kuulang kembali
Karena semua memori
Hanyalah sebuah memori
Yang kan berlalu
Malam ini akankah kau datang
Atau malah melupakan
Kini kau hanya sebuah bayang
Dan pagi menjelang
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Ode to family
Ode to My Family *)
Anakmu menangis
Anakmu mengejang
'Ibu...Ibu jangan tinggalkan aku'
sedang kau bermain pingpong
dengan bapak di kamar tamu
Bola di-smash, bola meluncur
masuk belah dadamu. Ah kau mengerang tersentuh puting.
Bapak tertawa, kau menyebut nama anak.
Tapi anakmu meradang, anakmu menendang botol susu bukan girang
Mata bapak melotot, saat beha kau tarik, ternyata ada bola sebundar payudara.
Dan anakmu memandang tegang pada maut bersayap putih datang tak diundang.
Anakmu takut merapatkan jemari, mengigil badan tak berpeluk. Diam.
Lalu bapak mengangkat di meja persegi. Kau meneteki, tapi mulut kaku.
Kau takut pada mata serupa bola pingpong. Mencungkil. Menelan buat jamu kuat.
Lalu menyalib di dinding kamar
Permainan belum selesai,
sedang anakmu menjadi wasit
Bekasi,20042009
*) judul dari lagu ciptaan 'Cranberries'
poem by Fitrah Anugrah

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Kenapa bilang cinta
Kenapa bilang cinta
Bila hanya sekejap mata
Kenapa bilang suka
Bila cuma di bibir saja
Kenapa bilang cinta
Bila untuk status semata
Kenapa bilang saying
Bila bukan aku yang dibayang
Kenapa bilang cinta
Bila semuanya pura-pura
Kenapa bilang peduli
Bila sebenarnya tak ada di hati
Kenapa bilang cinta
Bila kata-kata tak dimakna
Kenapa bilang takdir
Bila nantinya berakhir
Kenapa bilang cinta
Bila tak cukup rasa
Kenapa bilang segalanya
Bila akhirnya tak bersisa
Kenapa bilang cinta
Bila alasan lain tak berguna
Kenapa bilang bahagia
Bila terus tersiksa
Kenapa bilang cinta
Bila selalu terpaksa
Kenapa bilang tak masalah
Bila berpisah karena berubah
Kenapa bilang cinta
Bila besok lalu lupa
Kenapa bilang selalu ada
Bila sepi kian mendera
Kenapa bilang cinta
Bila tak berusaha percaya
Kenapa bilang mencoba
Bila menghindari terluka
Kenapa bilang cinta
Bila berharap sebaliknya
Kenapa bilang mengerti
Bila tak pernah tepati janji
Kenapa bilang cinta
Bila kau tak setia
Kenapa bilang selamanya
Bila aku bukan satu-satunya
Kenapa bilang cinta
Bila tak pelihara baranya
Kenapa bilang melindungi
Bila kau biarkan mati
Kenapa bilang cinta
Bila bermimpi pun tak boleh juga
Kenapa bilang rindu
Bila tak lebih dari merayu
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Fundamental of Liar Chapter LXXXI: Ability
Bisa karena biasa
Bisa karena terpaksa
Bisa karena berkuasa
Bisa karena dewasa
Bisa karena memang bisa
Bisa karena punya asa
Able because get used
Able because get forced
Able because have power
Able because already mature
Able because really talented
Able because keep a hope
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Mungkin
Mungkin aku telah tertipu mulut manismu
Padahal kau hanya menawarkan cinta palsu
Mungkin aku bermimpi memilikimu
Padahal aku terjebak permainan cintamu
Mungkin kau hanya mencari kebahagiaan semu
Dan aku hanya memuaskan rasa ingin tahuku
Mungkin kau tak memikirkan diriku
Dan kau membuatku percaya hanya itu
Mungkin aku tak peduli
Karena aku tak pernah menyesal memilihmu
Mungkin aku tak perlu mengerti
Karena aku terlanjur mencintaimu
Mungkin semua ini adalah kebohongan yang indah
Dunia ilusi yang kita ciptakan bersama
Mungkin kita semua mempunyai sebuah rahasia
Tentang perasaan sepi yang kita punya
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Bye, bye, Blackbird
awal dan akhir cerita
baik atau buruk
manusia telah melewati satu drama
tidak bisa sama dengan yang telah lalu
karena kuat bisa diubah, karena lemah harus berubah
kalau tidak tahu keduanya
tidak bisa menampilkan seorang manusia
waktu yang terus berjalan
meski menangis, tersungkur, melaju ke depan tanpa ampun
seperti kereta ini
ke depan, melaju ke depan
ke masa depan
this is inspired from the song 'bye bye blacbird' by isadora duncan
from the duck of mr fredward
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Impian
Impian adalah sesuatu yang dapat berubah
Saat kita melewati waktu atau saat bertemu seseorang
Tidak mungkin tidak berubah
Saat kita telah mewujudkannya atau menemukan sesuatu yang baru
Bila kau terus menyangkal perubahan itu
Maka impianmu akan berubah menjadi beban
Karena kau akan terpaku padanya dan hilang jalan
Impian yang berubah bukan sesuatu yang memalukan
Bukan karena kita tidak berjuang atau menyerah menggapainya
Tapi impian adalah hasrat kita untuk menemukan tempat untuk diri kita sendiri
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Titipan
Untuk W.S. Rendra
Milikku semua adalah titipan
Tapi karena aku terlalu lama memilikinya
Aku lupa bahwa itu bukan milikku
Dan tidak merelakannya saat aku kehilangan
Mengapa aku bersedih dan menganggapnya musibah
Tentu saja karena aku mencintainya
Aku terlalu mencintainya sebagai milikku
Padahal milikku semua adalah titipan
Lalu salahkah bila aku mencintainya
Sebagai milikku dan bukan titipan
Tapi harusnya tak kuhilangkan
Kesadaran dan kerelaan itu
Bahwa yang memberiku titipan
Juga sangat mencintai milik-Nya
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Hidupkah Kau
Hidupkah kau untuk mengeluh
Dari terbitnya matahari hingga terbenam
Tentang kehidupan yang tak memuaskan
Dirimu yang selalu menginginkan kenyamanan
Ataukah terbersit sekali dalam pikiranmu
Untuk sejenak sedikit bersyukur
Tentang kehidupan yang masih kau punya saat ini
Bersama dengan harta yang mungkin kau tak sadari
Karena kau sibuk mengeluh
Dan lupa untuk menghargai dan menjaga hal itu
Hidupkah kau untuk meminta
Dari buaian bayi hingga ke liang kubur
Agar dirimu diutamakan
Dan tak juga belajar bersabar
Ataukah terbersit sekali dalam keinginanmu
Untuk berusaha sendiri
Lepas dari belas kasihan orang lain
Agar dirimu tak perlu lagi mengiba
Untuk memperoleh apa yang kau inginkan
Karena kau sibuk meminta
Dan lupa memberi dan memperbaiki hal itu
Hidupkah kau untuk mencela
Dari ujung bumi hingga dasar samudera
Menuding orang melakukan kesalahan
Dan mengangkat tinggi dagumu dengan sombong
Ataukah terbersit sekali dalam hatimu
Untuk sebentar saja bercermin
Memandang kembali segala persoalan
Dengan kepala jernih tanpa prasangka
Karena kau sibuk mencela
Dan lupa untuk belajar dan memahami hal itu
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
The Feast
Mari kita memulai kisah
Tentang sang raja dan sang singa
Anak manusia dan penguasa rimba
Dari padang rumput mereka terlahir
Dengan kebanggaan dan harapan
Dengan bahaya dan cobaan
Jauh, jauhkan dahulu kedengkian itu
Kita buka dengan babak penuh kedamaian
Menghisap embun pagi yang sama
Menatap dunia baru dengan mata terbuka
Alangkah manis pemandangan mereka yang tak berdosa
Lalu perjumpaan sederhana di tepi kolam
Di mana surga dan neraka amatlah tipis bedanya
Tempat kau mengangkat taring untuk musuh
Atau mencakar lembut tangan sahabat
Bermain bersama di sela-sela semak
Berguling penuh debu di bawah sinar matahari terik
Sungguhkah mereka akan menjadi raja dan singa
Tubuh yang tumbuh menjadi sempurna
Pikiran yang terjalin menjadi pemahaman
Gerbang kedewasaan mengantar mereka pada perpisahan
Peraturan istana dan insting liar
Demi kekuasaan dan harga diri
Mereka tidak berpisah dengan air mata
Karena mereka diajari untuk tidak menangis
Mereka berpisah dengan darah
Tradisi dan perburuan
Pembantaian dan penghinaan
Sang singa mengaum dengan keras
Dengan surainya yang kini lebat terurai
Sementara sang raja terpencil
Di tahtanya yang dingin dan sorak sorai penonton
Mereka merindukan masa-masa itu
Masa saat mereka bertatapan tanpa penuh kebencian
Dan bilamana bulu keemasan itu tiba di pangkuan sang raja
Sang raja menandai pemerintahannya
Dan sang singa mati demi sahabatnya
Ini bukanlah cerita yang perlu diratapi
Baik sang raja maupun sang singa
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Sang Pujaan
Dia terus saja memandangmu
Gadis yang melihat dari atas jendela
Dan gadis yang berpapasan di jalan
Dia jelas-jelas mengagumimu
Gadis pembuat kue
Dan gadis anak penjahit
Tapi mungkin kau tak menyadarinya
Hatimu begitu dingin dan acuh
Dia pasti mengincarmu
Gadis putri tuan tanah
Dan gadis penyanyi bar itu
Dia juga diam-diam mencintaimu
Gadis pemalu yang tak sanggup memandangmu
Dan gadis sahabat yang ada di dekatmu
Tapi mungkin kau tak peduli
Hatimu sangat dingin dan tak tersentuh
Siapakah dia yang akan kau ajak ke pesta?
Siapakah dia yang akan kau ajak berdansa?
Gadis yang cantikkah atau biasa saja
Siapakah dia yang akan kau pilih?
Siapakah dia yang mencuri perhatianmu?
Gadis yang ceriakah atau gadis yang lembut
Seisi kota begitu ingin tahu tentangmu
Tapi kau masih saja berjalan dengan santai
Mengapa kau begitu mempesona setiap gadis?
Mengapa tak kau pilih salah satu saja?
Gadis yang kau kenal baik atau gadis yang dijodohkan
Berilah kesempatan pada para gadis untuk mendapatkanmu
Juga beri kesempatan para pria untuk mendapat gadis
Bila tak juga mencari seisi kota akan menjadi gila
Dia yang mencintaimu akan menyelamatkanmu
Dia yang kau cintai akan menyelamatkan kami semua!
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Pantun - Laut Manukan sebotol dakwat biru (translated to English)
laut di Manukan sebotol dakwat biru
gelombang biru gelap di ambang seni
cendekiawan yang sana jangan lupa buru
bimbing kita ke lautan minda berisi
the sea at Manukan is a bottle of blue ink
waves of dark blue in the lane of art
the intellectuals there please dont forget
lead us to the sea of mind that is filled with great things
poem by John Tiong Chunghoo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!