Kapau (Indonesian)
Sadjakku pagi ini kapau
Buntjis dan nangka santan
Nasi hangat
Djiwa hangat dihidupkan
Nasi butuh kapau
Biar gurih tambo rendang daging
'Kering & hitam' katamu
Kesabaran api jang membakar putjuk kaju
Setelah bara terbitlah rasa
dari Padang dibawa ke Jogja
Dulu ajahku selalu membawaku kesini
RM. Sinar Budi djl.P. Mangkubumi
(depan bioskop Ratih)
Maret,2011
poem by Imam Setiaji Ronoatmojo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Related quotes
Wajah Pagi di Wajahmu yang Malam Memancar Cahaya Malammu di Wajah Pagi
Sudah berapa banyak angka dari kalender
Merawat nyeri dari luka paragraf soliloqui
Pada bangunan yang dipurbakan
Setiap jeda waktu terteriak di mulutmu
Serupa dengung tawon dalam hutan
Deru suaramu meruwat perjalanan ngilu
Ngilu: Kau ceritakan lagi pagi ini
Seperti pagi yang lalu tanpa ingata
Mungkin di pagi yang lain, insomniamu
Dan kamu akan datang lagi, ceritakan nyeri
Pada kematian di hamparan panggung teater lengang
Lalu tegang di wajahmu
Lalu tenang seolah-olah
Pada bait-bait puisi
Yang kau sesalkan sebelum tidur
Lalu mimpi buruk melumat sesal
Sembunyikan ketakutan di bibirmu
Bibirmu: Cerita ngilu di sebuah pagi
"pada akhirnya batang tubuh berakal ini
menjadi analog-analog kecil dalam satwa
yang kau juga aku mengembunkannya
pada imajinasi untuk sesuap nasi."
Kau diam sebentar, bercakap kecil
Kulihat ke dalam matamu, ada luka
"Luka itu kawan, yang membuat senyum
di kanvas pagi yang ngilu pada ceritaku
selain luka tak ada lagi untuk sebuah cerita
dan kenangan hanya maut yang tak kukenal."
Kata-katamu menetaskan api pagi ini
Sebagaimana aksara di bibir penyair itu
Telah membakar puisi dan mengabu kini
Terhempas ke ladang-ladang petani
Terhimpit map-map plastik di kantor-kantor
Menempel di wajahmu sendiri
Pagi ini, lembut. Legam.
Kau diam kemudian
Sambil menunjuk jari ke tubuh ayam betina
Yang mencari makan sisa angin dan embun segar semalam
Jika hujan tak membawanya pergi
Dan kau tak mencolongnya untuk sepenggal diksi
"Lihatlah ayam betina itu, tenang dan tentram."
Sebab tak punyai kata-kata untuk luka
Maka waktu mengisi nyeri
pada jeritan sebelum subuh
Dan segala seperti mula asal
Bangkit lagi, kematian tak berupa
Bahkan catatan dikosongkan
Untuk nama-nama luka
Sesiang nanti, hari tak berharapan
Hari tanpa pangkuan
Selain hanya ceritamu
Yogyakarta,2011-2012
poem by Selendang Sulaiman

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Puisi Sembilan Tabiat Cinta
Sembilan Tabiat Cinta
I.
Musim-musim hampiri cintaku. Padamu tak sempat kutitip rindu. Hujan pergi tinggalkan basah daunan. Aroma kembang menyemerbak ke udara. Tak ada wangi cintaku di sana. Segersang rindu di matamu akan diriku. Dahaga sepi dan nyerinya tertahan di atas sebidang dadaku. Resah bibirmu, terlampau suram kujamah warnanya. Apa kau tak mendengar degup musim menghujam jantung cintaku. Di sana rindu membiru di bibir waktu. Sebiru resahmu.
II.
Aku tulis tabiat cinta ini dengan ingatan terpenggal musim hujan. Terkambang bah di sungai coklat, terapung di selat kecil ditinggalkan para pengumpul pasir. Tak ada sauh tak ada jangkar untuk kulempar biar perahu waktu berhenti. Sebab laju perahu, nyeri gelombang lautan yang menderita di jantungku. Maka kutulis tabiat cinta ini atas nama rasa yang kurasa kesejukannya setiap embun jatuh seperti matamu menatapku.
III.
Aku mencintaimu bukan tanpa perhitungan, meski belum sepenuhnya tepat waktu. Tetapi aku tidak tergesa-gesa. Itulah sebabnya cintaku mengalir tenang. Serupa capung-capung senjahari terbang di atas hamparan padi menguning.
IV.
Cintaku hidup dari udara pagi di lembah-lembah, sawah dan ladang. Berhembus ke samudra mencipta awan. hujan deras adalah kesetiaanku padamu. Kesetiaan musim pada kesejukan. Dan apabila badai dan banjir datang itulah cemburu batinku yang sialan. Apa kau tak merasa ada kehidupan diantara jarak kita memandang?
V.
Kepadamu aku mencari kekuatan hidup dengan segala kesadaran dan fitrah kemanusiaan. Lalu cinta kubangkitkan di dalamnya dengan tangan-tangan api dan air. Hawa panas dan dingin adalah nafasku. Apa kau tak merasa hembusnya kekasih?
VI.
Tak ada kuasa untuk cinta. Jika ketakutan hadir sebab cemburu. Aku bicara dari lubuk bumi. Meski tak ada pohon bicara. Engkaulah maha pendengar kata-kata yang menjelma dedaunan dan reranting subur. Aku tersiksa oleh cinta. Kau tentu tak sudi mengurai air mata, ketika luka batinku menjeritkan nyeri letusan berapi. Tetapi, biarlah lahar panas menyulap rinduku.
VII.
Kita selalu bicara tentang cinta, nestapa, dan impian sejak pertemuan pertama. Meneguk anggur sampai mabuk, hingga kesadaran tunai di persimpangan menuju hidupmu-menemu hidupku. Kita sepakat lupakan segala, madu dan darah kita, lalu kita penuhi dengan air raksa.
VIII.
Cintaku, rasa sakit dari masa lalu, tak terasa oleh nyeri hari ini untuk masa depan.
IX.
Mari kita berdoa satu sama lain.
Yogyakarta,2011-2012
poem by Selendang Sulaiman

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Pantun - Arus deras sungei Klang setelah hujan lebat (translated to English)
arus deras setelah hujan lebat
cepat ubah wajahnya sungei klang
bagai kuala lumpur di susuli ekonomi pesat
dulu pekerja ladang skrang towkay kilang
the water is treacherous after the rain
the klang river is fast to change her image
like kuala lumpur after the fast economic progress
those farmers some are now factory owners
arus deras sungei klang setelah hujan lebat
bagai kuala lumpur di susuli ekonomi hebat
bangunan tingi lambang pembagunan pesat
ibu kota yang mulai dari lumpur ke suatu pusat
river klang is choppy after a bout of rain
like kuala lumpur after its economic growth
high buildings are signs of development
the city that grows from a mud estuary to an important centre
poem by John Tiong Chunghoo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
A Beggar Never Complains?
But one day when somebody offered him a Nasi goreng plate
From an Indonesian Restaurant,
He said; 'Sorry Sir! It's too heavy and a rich diet it seems
I used to cold stale meals and don't know my kinky bowels
Could face the unexpected challenge? '
poem by Nimal Dunuhinga

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Warna Cinta
Kini
Aku terdiam terhenti
Tenggelam di dalam sepi
Dan ku bermimpi
Nanti
Pasti kudapat kembali
Pengganti yang telah pergi
Dan ku mengerti
Meski kubuang semua
Segala rasa di dada
Semakin tertinggal hampa
Yang menekan jiwa
Meski kututup semua
Kenangan tersisa
Semakin ku lupa cara
Bahagia
Suatu hari
Siapapun yang kunanti
Kan membawaku pergi
Hapuskan pedih
Meski tak selamanya mudah
Tapi layak dicoba
Karena ku butuh cinta
Tuk penuhi jiwa
Meski kau bilang ku buta
Dan ku kan terluka
Tapi itu pun warna
Dunia
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Budi od svijeta
Budi od svijeta
Grumen od sna
Pticom od leta
Okom bez dna
Pogled u nedogled
Satkanog neba
Nogom u nedostup
Korak od hljeba
Načinjen trag
Buđenja dodir blag
Budi od svijeta
Tkanicom halje
Od nebopleta
I zemljom dalje
Krilati cvijet
Što šušti listom
Jesenji pad
I dušom čistom
Plavog neba glad
Budi od svijeta
Što jede svijetom
Smrt soptvenog tijela
Budi od leta
Što budi letom
Zemljom zamrla vrela
Budi od spleta
Tkanog nebokretom
Duša što cijelo je srela
©Miroslava Odalović
poem by Miroslava Odalovic

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Senja kala
Senja kala di padang gema
Aku lupa rupa sang suara
Bisikan merayu di telinga
Atau angin ribut dari utara
Senja kala di batas jumpa
Aku lupa tanda sang cinta
Getaran bunga pertama
Atau gelora bulan purnama
Senja kala di ujung dupa
Aku lupa nada sang jiwa
Harum mewarnai dunia
Atau asap melayang di mata
Senja kala di jembatan tua
Aku lupa wangi sang gula
Manis melekat saat tertawa
Atau pahit di luka menganga
Senja kala di lubuk malam
Aku lupa belai sang cahaya
Kilau permata di laut tenang
Atau semburat merah di langit hitam
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Kenapa bilang cinta
Kenapa bilang cinta
Bila hanya sekejap mata
Kenapa bilang suka
Bila cuma di bibir saja
Kenapa bilang cinta
Bila untuk status semata
Kenapa bilang saying
Bila bukan aku yang dibayang
Kenapa bilang cinta
Bila semuanya pura-pura
Kenapa bilang peduli
Bila sebenarnya tak ada di hati
Kenapa bilang cinta
Bila kata-kata tak dimakna
Kenapa bilang takdir
Bila nantinya berakhir
Kenapa bilang cinta
Bila tak cukup rasa
Kenapa bilang segalanya
Bila akhirnya tak bersisa
Kenapa bilang cinta
Bila alasan lain tak berguna
Kenapa bilang bahagia
Bila terus tersiksa
Kenapa bilang cinta
Bila selalu terpaksa
Kenapa bilang tak masalah
Bila berpisah karena berubah
Kenapa bilang cinta
Bila besok lalu lupa
Kenapa bilang selalu ada
Bila sepi kian mendera
Kenapa bilang cinta
Bila tak berusaha percaya
Kenapa bilang mencoba
Bila menghindari terluka
Kenapa bilang cinta
Bila berharap sebaliknya
Kenapa bilang mengerti
Bila tak pernah tepati janji
Kenapa bilang cinta
Bila kau tak setia
Kenapa bilang selamanya
Bila aku bukan satu-satunya
Kenapa bilang cinta
Bila tak pelihara baranya
Kenapa bilang melindungi
Bila kau biarkan mati
Kenapa bilang cinta
Bila bermimpi pun tak boleh juga
Kenapa bilang rindu
Bila tak lebih dari merayu
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Pantun - bagai embun menjelma di pagi (translated into English)
bagai embun menjelma di pagi
segarkan udara terus hilang
bagai kasih tersimpan di hati
sinar menerangi kertas berlubang
like mist that appears at dawn
freshens the air and immediately disappears
like the love kept in the heart
light shining through a perforated sheet
poem by John Tiong Chunghoo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Weep Day
I never went to the tropical island
Though everybody said they saw me there
And it wasnt me you punched a hole in
At the west german protest march
Simultaneous events dont happen
We are isolated temporally
And a part is never called the whole thing
Though it bothers us to know its so
Every man is made of two opinions
Every woman has a second half
And its samba time for tambo and weep day for urine man (samba time for tambo and weep day for urine man)
Yes, its samba time for tambo and weep day for urine man (samba time for tambo and weep day for urine man)
I didnt write the words you hear me singing (didnt write the words you hear me singing)
I didnt sing the line before this one (didnt sing the line before this one)
You are not the one I was addressing (you are not the one I was addressing)
That person took a train to africa (africa)
Where he met the consulate from belgium
Who is now a buddhist in a cave
Who is pitching for the oakland raiders
Striking out the batter she became
Every man is made of two opinions
Every woman has a second half
And its samba time for tambo and weep day for urine man (samba time for tambo and weep day for urine man)
Yes, its samba time for tambo and weep day for urine man (samba time for tambo and weep day for urine man)
Yes, its samba time for tambo and weep day for urine man (samba time for tambo and weep day for urine man)
Weep day for urine man (weep day for urine man)
Weep day for urine man (weep day for urine man)
Weep day for urine man (weep day for urine man)
Weep day weep day
Weep day weep day
Weep day weep day
Weep (weep) weep (weep) weep (weep) weep (weep)
Weep (weep) weep (weep) weep (weep) weep (weep)
Weep (weep) weep (weep) weep (weep) weep (weep)
Weep (weep) weep (weep) weep (weep) weep (weep)
Weep (weep) weep (weep) weep (weep) weep (weep)
Weep (weep) weep (weep) weep (weep)
song performed by by They Might Be Giants

Submitted by Lucian Velea
Vote! | Copy!
Bye, bye, Blackbird
awal dan akhir cerita
baik atau buruk
manusia telah melewati satu drama
tidak bisa sama dengan yang telah lalu
karena kuat bisa diubah, karena lemah harus berubah
kalau tidak tahu keduanya
tidak bisa menampilkan seorang manusia
waktu yang terus berjalan
meski menangis, tersungkur, melaju ke depan tanpa ampun
seperti kereta ini
ke depan, melaju ke depan
ke masa depan
this is inspired from the song 'bye bye blacbird' by isadora duncan
from the duck of mr fredward
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
The Feast
Mari kita memulai kisah
Tentang sang raja dan sang singa
Anak manusia dan penguasa rimba
Dari padang rumput mereka terlahir
Dengan kebanggaan dan harapan
Dengan bahaya dan cobaan
Jauh, jauhkan dahulu kedengkian itu
Kita buka dengan babak penuh kedamaian
Menghisap embun pagi yang sama
Menatap dunia baru dengan mata terbuka
Alangkah manis pemandangan mereka yang tak berdosa
Lalu perjumpaan sederhana di tepi kolam
Di mana surga dan neraka amatlah tipis bedanya
Tempat kau mengangkat taring untuk musuh
Atau mencakar lembut tangan sahabat
Bermain bersama di sela-sela semak
Berguling penuh debu di bawah sinar matahari terik
Sungguhkah mereka akan menjadi raja dan singa
Tubuh yang tumbuh menjadi sempurna
Pikiran yang terjalin menjadi pemahaman
Gerbang kedewasaan mengantar mereka pada perpisahan
Peraturan istana dan insting liar
Demi kekuasaan dan harga diri
Mereka tidak berpisah dengan air mata
Karena mereka diajari untuk tidak menangis
Mereka berpisah dengan darah
Tradisi dan perburuan
Pembantaian dan penghinaan
Sang singa mengaum dengan keras
Dengan surainya yang kini lebat terurai
Sementara sang raja terpencil
Di tahtanya yang dingin dan sorak sorai penonton
Mereka merindukan masa-masa itu
Masa saat mereka bertatapan tanpa penuh kebencian
Dan bilamana bulu keemasan itu tiba di pangkuan sang raja
Sang raja menandai pemerintahannya
Dan sang singa mati demi sahabatnya
Ini bukanlah cerita yang perlu diratapi
Baik sang raja maupun sang singa
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Tenggelam
Tenggelam
Rasa yang ada menghilang
Jiwaku kan tertelan
Kesepian
Menghujam
Diserang jurang kegelapan
Tertatih coba tuk pulang
Sendirian
Dan ku kan bertahan
Walau badai menerjang
Ku tetap genggam harapan
Ku kan jauh terbang
Dan ku kan berjalan
Meski pedih terus membayang
Ku yakin di depan ada jalan
Yang bersinar dan terang
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Buat Apa
Buat apa uang berlebih
Jika tak dapat menikmati
Buat apa harta yang banyak
Jika keluarga tak dekat
Buat apa menyombongkan diri
Jika bukan usaha sendiri
Buat apa berdoa dan memuji
Jika tak setulus hati
Buat apa kekuasaan besar
Jika tak membela yang benar
Buat apa umur yang panjang
Jika kebahagiaan tak kau rasakan
Buat apa mengejar kejayaan
Jika akhirnya terlupakan
Buat apa bermain-main dengan kata
Jika tak ada sesuatu yang nyata
Buat apa kekuatan dashyat
Jika dendam terus kau ingat
Buat apa menjadi yang terbaik
Jika tak membuatmu menarik
Buat apa mati-matian mengolah raga
Jika kesehatan tak dijaga
Buat apa terus memperluas
Jika diliputi rasa tak puas
Buat apa berteman
Jika untuk mencari keuntungan
Buat apa memberi kesempatan
Jika selalu mencari kesalahan
Buat apa membuat pilihan
Jika dari awal tak pernah ada lain jalan
Buat diliputi kemujuran
Jika tak mendapatkan apa yang diinginkan
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Amirul Khirana
Amirul Khirana
Amirul khirana,
wajahmu bersih ibarat kain putih
matamu....
sinarnya menyejuk hati yang gelora
hidung mancungmu menyimpan rahsia wujudmu
Amirul Khirana,
duduknya kau disitu....
ibarat petanda akan lahirnya
seorang wira,
seorang penyelamat bangsa
dan
seorang pencinta abadi
Amirul Khirana
hatimu selembut sutera
hatimu putih!
seputih salju pagi
Amirul Khirana
jauhilah dirimu dari api noda dunia
Amirul Khirana
Bataslah dirimu dari godaan syaitan durjana
Amirul Khirana
jagalah dirimu
lindungilah wujudmu
lindungilah duniamu
Supaya, kau tetap suci
supaya tiada setitispun lumpur dunia yang bisa
mengotori jiwa murnimu
Amirul Khirana
kau harapan
kau impian
Biarkan hanya kata-kata suci bermakna lahir dari bibir munggilmu
biarkan kemewahan dunia pergi kerna itu
bukan abadi
Amirul Khirana
poem by Qistina Zaini

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Difahami
Dalam kekerasan hati aku lihat ada kelembutan
yang tak pernah dapat terungkai
Dalam pedasnya kata-kata aku lihat kasih sayang yang
tak pernah dapatku mengerti
Dalam tajamnya renugan mata kulihat sinar
Matahari yang terik menyinari menyatakan
Betapa hati ingin dimengerti
Dalam halusnya suara dapatku dengar
dengusan-dengusan nafas yang lelah
menyatakan betapa diri ingin dihargai
Hanya kekerasan yang menutupi kelembutan
Hingga hadiryna tohmahan
Menutup cahaya mentari
Menista sinar kasih sayang
Namun…
Tidak akan pernah ada yang memahami
Selagi tiada yang cuba menyelami
Dari hati seorang insan
yang cuba untuk aku mengerti
poem by Qistina Zaini

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Menatap lurus matamu (Indonesian)
lalu belajar mengerti dari awal,
membaca kembali ejaan yang tak pernah kau berikan,
karena sebagaimana pengertian dari awalnya
bermula dari keterpaksaan,
penderitaan yang dijalani,
akar tunjang yang membelit tumbuh
di pokok batangnya,
rumput yang tumbuh
di segala musim,
kerelaan yang tumbuh
dari bola matamu,
memperkaitkan sepi pada pengertian,
alam benda-benda yang ada di kerajaan hati,
entah berapa kali aku mengemis padamu,
jangan buatkan sarang laba-laba yang menjebakku,
jadi magsamu,
terpikat masuk ke bola matamu,
terjebak sukma ruhmu,
melewati aliran nadi,
memenuhi hasrat,
pelajaran apalagi ini?
bermula dari kekosongan mengisi setiap rongga jiwa,
penderitaan adalah awal persetubuhan,
persetubuhan yang akan menjadi puing-puing
kenangan dalam matamu,
hendakkah kau buang,
bagi matamu yang penyair,
barangkali akan tinggalkan sebagai kata,
yang kembali dieja dengan apa saja judul puisimu,
tetapi tetap saja persetubuhan kita tak kekal,
hanya kekal dalam matamu dan mataku,
suatu kali kita bangun kerajaan dalam semalam,
aku puaskan membangunkan pualam istana,
cuma dalam matamu,
setelah kekeringan yang punah,
dibakar, apalagi ini?
lalu belajar mengerti kembali…..
(2001)
poem by Imam Setiaji Ronoatmojo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Hidupkah Kau
Hidupkah kau untuk mengeluh
Dari terbitnya matahari hingga terbenam
Tentang kehidupan yang tak memuaskan
Dirimu yang selalu menginginkan kenyamanan
Ataukah terbersit sekali dalam pikiranmu
Untuk sejenak sedikit bersyukur
Tentang kehidupan yang masih kau punya saat ini
Bersama dengan harta yang mungkin kau tak sadari
Karena kau sibuk mengeluh
Dan lupa untuk menghargai dan menjaga hal itu
Hidupkah kau untuk meminta
Dari buaian bayi hingga ke liang kubur
Agar dirimu diutamakan
Dan tak juga belajar bersabar
Ataukah terbersit sekali dalam keinginanmu
Untuk berusaha sendiri
Lepas dari belas kasihan orang lain
Agar dirimu tak perlu lagi mengiba
Untuk memperoleh apa yang kau inginkan
Karena kau sibuk meminta
Dan lupa memberi dan memperbaiki hal itu
Hidupkah kau untuk mencela
Dari ujung bumi hingga dasar samudera
Menuding orang melakukan kesalahan
Dan mengangkat tinggi dagumu dengan sombong
Ataukah terbersit sekali dalam hatimu
Untuk sebentar saja bercermin
Memandang kembali segala persoalan
Dengan kepala jernih tanpa prasangka
Karena kau sibuk mencela
Dan lupa untuk belajar dan memahami hal itu
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Long Journey
Aku berjalan, waktu berjalan
Aku berhenti, waktu berjalan
Menatap ke depan, jalan membentang
Menatap ke depan, waktu menghalang
Menyeretmu tiap hentakan
Tanpa mengajari cara untuk terbang
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Hyperlink (Deep Down)
i want a click, a click to your heart
a hyperlink into you.
a sexual browser from here to the end
a newsgroup one on one
don't need a modem to connect to your mind
no search engine to find you
i want a click, a click to your heart
a hyperlink to go inside you.
deep down, deep down,
dari dara dada du dara.
deep down, deep down,
dari da da.
deep down, deep down,
dari dara dada du dara.
deep down, deep down,
dari da da.
song performed by by Eiffel 65

Submitted by Lucian Velea
Vote! | Copy!