Koin Untuk Prita (Coins for Prita)
cring, cring
berjatuhan koin-koin
cring, cring
hati si miskin memanggil
cring, cring
koin kecil berarti penting
cring, cring
bila bersama tak ada yang tak mungkin
cring, cring
koin-koin terus berdering
cring, cring
tangan si kecil memberi
cring, cring
sedikit koin yang dikira tak berarti
cring, cring
bila bersatu bukit pun benar-benar jadi
klink, klink
coins dropping
klink, klink
the heart of poor calling
klink, klink
small coin for important meaning
klink, klink
if together impossible is nothing
klink, klink
coins keep ringing
klink, klink
little hands giving
klink, klink
small coin thought has no meaning
klink, klink
if united the hill really building
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Related quotes
Blessed
Blessed are those
happy in their skin
enjoying a raucous
belly laugh
without a care
to notice
the pretenders
cring with embarrassment.
poem by Vince Gullaci

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Changing
life's a pain
in this game searching
for fame
burning up in rage
consealed behind tears
so until this pain is gone
friends seem like foe's
as i look in this mirror all
i see is a shell of the past
as this demon takes over
as i sit cring out for help
poem by Robert Roberts

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Ashen Valleys Of War
Vivid are the greenest fields,
Sacred in my memories,
Taken captive by enemies,
Stolen and made to loveless gold,
Loose footing catches me,
And Reminds me ever still,
This which once had been my will,
The legend I once had told,
This Not meant to,
Be a warning
Of such macabre
Relentless moaning
Of those left behind to die
In ashen valleys of war
Bad El Ess Dee
surgeon general's warning
dont eat this
seek guidance if you can
reject the fist
seek therapy if you can
just try to vomit
seek god if there is one
just try to remember
theres something extra in your pocket
call it profit
who cares how you got it
its there
smile loser
surgeon general's warning
know your acid dealer
The Hungry Wolf
its stalks those you feel joy and happiness
and feeds off misery and self-doubt
until they're dead
they can no longer scream or shout
It skulks around the in the shadows
waiting for the sounds of a lover, with a broken heart
or a mother cring for her lost child
it can be so close, but u'd never know, for no one is that smart
The wolf knows, all good things must come to an end
he finds couples that are in love and just waits
when one gets thier heart broke, and waits for it to mend
the darkness provides a perfect place for the Wolf to strike
poem by Born Frustrated

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
London Types: 'Liza
'Liza's old man's perhaps a little shady,
'Liza's old woman's prone to booze and cring;
But 'Liza deems herself a perfect lady,
And proves it in her feathers and her fringe.
For 'Liza has a bloke her heart to cheer,
With pearlies and a barrer and a jack,
So all the vegetables of the year
Are duly represented on her back.
Her boots are sacrifices to her hats,
Which knock you speechless-like a load of bricks!
Her summer velvets dazzle Wanstead Flats,
And cost, at times, a good eighteen-and-six.
Withal, outside the gay and giddy whirl,
'Liza's a stupid, straight, hard-working girl.
poem by William Ernest Henley

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Good Bi Rain
Let the rain past
from my tears
Let the storm leave
my heart
and leave me be
*(Hook) let the rain come down
on me
no more
let the storm past
let my heart mend
how can cring for you never end
let no more, tears
pour from me eyes
plesae stop the rain
no more
no more rain
raining down on me
no more from my eyes
let the rain of tears
wash me clean
*(Hook) let the rain come down
on me
no more
poem by Verlecia fields

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Amsterdam, September 1939
Vir Ernst
Niks sal ooit weer wees soos dit daardie somer was:
die water van die Spiegelgracht lê swart soos glas;
die brûe, boë, bome en lampe ry op ry
wieg lui-lui heen en weer as ’n bootjie daaroor gly;
en deur die mis wat instoot van die see terwyl
die skemer teen die gewels styg, klink vér en yl,
asof gesprinkel, ’n wysietjie uit ’n toringklok.
Maar dis reeds oorlog! Dié besef tref skielik met ’n skok!
Ons wis dit séker ’n herfsmiddag, later, toe eindelik
ons skip die oop see kies en ons ’n laaste blik
vergun word van die kus – die strand, die kaal, wit duin
en ’n vuurtoring, donker, teen die donker, lae kruin;
en toe, ’n kwartiertjie later, in die Noordsee, mis ons boot
rakelings ’n myn wat los dryf in die see – en óns die dood.
Ons vaar dan verder: ’n helder driekleur aan die mas …
Maar niks sou ooit weer wees, soos dit daardie somer was.
poem by William Ewart Gladstone Louw

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!

Hjerte-Suk til Maanen
Hulde Maane, stiig fra Skyen frem!
Solen hviler alt bag Laas og Lukke.
Ak, Madam, Madam, jeg elsker Dem!
Vær ei kold mod mine hede Sukke!
De er bleg, og jeg er ligesaa;
Begge vandre vi saa taust og ene;
Hurtigt gaaer De hen ad Himlens Blaa,
Ogsaa jeg har gode lange Bene.
Er det sandt at Maanen trækker Vand,
Vil jeg græde mig til Ãgtemand.
Hav mig naadig dog i Deres Sind,
Husk den Tid, da jeg var meget lille,
Da jeg spilled Skorsteen, Klink og Pind,
Og fik Riis, skjøndt ei jeg have vilde.
De har Kundskab om mit Barndoms Liv,
Jeg var god — en lille Sukker-Unge,
Nu jeg er det i Superlativ,
Men beskedent tier her min Tunge.
O, Madam, Madam! kom ned til mig,
Eller ogsaa tag mig op til Dig!
De har hørt saa mangen Elskers Suk,
Trøstet ham ved Deres kydske Flamme,
Ak, men mig De svarer ei et Muk,
Det er ikke christeligt, Madamme!
Gjerne sukked jeg for Dem paa Spansk,
Men jeg er ei stiv i Grammatiken,
Ak! jeg mægter knap at tale Dansk,
Hjertet synker ned i Kjole-Fikken.
Skjænker De ei snart mit Hjerte Ro,
Vist jeg spiller Werther Nummer to.
poem by Hans Christian Andersen

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Padam
Apa yang kau dapatkan, hargailah
Apa yang dipinjam, kembalikan
Sebelum semuanya menghilang
Dan api di dalammu padam
Apa yang kau simpan, rawatlah
Apa yang kau buang, relakan
Bila api di dalam dirimu telah padam
Kenangan pun tak lagi bisa membakar
Mimpi pun tak bisa lagi bersinar
Jadi jangan berhenti dulu
Sebab dewa masih memberimu waktu
Sebelum semuanya memudar
Dan api di dalammu padam
Apa yang kau inginkan, kejarlah
Apa yang kau takuti, hadapi
Sebelum semuanya menghilang
Dalam kegelapan yang kelam
Apa yang kau jaga, sayangilah
Apa yang kau benci, tangisi
Karena bila api yang ada telah padam
Ingatan pun tak lagi berarti
Jalan yang lebar pun tak lagi menarik
Jadi jangan mencemaskan hal yang tak perlu
Sebab meski terlihat tak ada waktu
Dan angin tak mau membantu
Kobaran di dadamu masih belum padam
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Cinta tak termiliki
Cinta…
Sendirian aku termenung
Mengenang dia yang tak termiliki
Sendirian…..
Sendiri aku lagi dalam kegelapan
dalam kekosongan jiwa yang nyata
tanpa dia….
Cinta, aku sendiri
Mencintainya, cinta..aku …..cinta
Tapi
Sendiri aku terus…
Tenggelam aku dalam renungan bundar matanya
Betapa redupnya…betapa indahnya
Tapi sendiri aku terus…
Mengenang dia yang tak termiliki
Bahgia bila mendengar bicaranya…
Tapi…
Lemah tanpa suaranya
Syurga aku lihat senyumnya
tapi…
Sedih bila hadapi amarahnya
Bangga aku dengar pujinya
Tapi…
Kecewa bila kudengar sindirnya
Ingin aku mengenalnya
Ingin aku milikinya
Ingin aku cintainya
Tanpa dia tau …
Tanpa dia mengerti…
Betapa dekat hadirnya, tapi.. jauh jiwanya
Ingin kusentuh selalu biar hati tenang
Biar jiwa lapang…
Tapi termenung aku terus mengenang cinta
Yang tak termiliki….
Hati ingin miliki
Hati ingin …. Hati ingin
Tapi termenung aku terus
Dibalik tabir jiwa yang tak mungkin aku miliki….
poem by Qistina Zaini

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Waktu yang Tepat
kapankah waktu yang tepat itu?
apakah bila kita secepat kilat
atau sewaktu berhitung cermat
kapankah waktu yang tepat itu?
apakah bila bergerak mendekat
atau bersabar menunggu penjerat
kapankah waktu yang tepat itu?
apakah bila kita melihat
atau ketika tak ada yang berbuat
kapankah waktu yang tepat itu?
apakah bila kita terus memahat
atau dimana semua sudah tersurat
kapankah waktu yang tepat itu?
apakah bila kehormatan terdesak
atau kala keberanian terdapat
kapankah waktu yang tepat itu?
apakah bila musuh merapat
atau sewaktu tak terlambat
kapankah waktu yang tepat itu?
apakah bila kita menangkap waktu yang sesaat
atau saat melepas semua pemberat
kapankah waktu yang tepat itu?
apakah bila semua selamat
atau ketika datang mujizat
kapankah waktu yang tepat itu?
apakah bila emosi memuncak
atau dimana yang berkuasa adalah akal sehat
kapankah waktu yang tepat itu?
apakah bila janji sudah terikat
atau kala hidup dipenuhi karat
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Kenapa bilang cinta
Kenapa bilang cinta
Bila hanya sekejap mata
Kenapa bilang suka
Bila cuma di bibir saja
Kenapa bilang cinta
Bila untuk status semata
Kenapa bilang saying
Bila bukan aku yang dibayang
Kenapa bilang cinta
Bila semuanya pura-pura
Kenapa bilang peduli
Bila sebenarnya tak ada di hati
Kenapa bilang cinta
Bila kata-kata tak dimakna
Kenapa bilang takdir
Bila nantinya berakhir
Kenapa bilang cinta
Bila tak cukup rasa
Kenapa bilang segalanya
Bila akhirnya tak bersisa
Kenapa bilang cinta
Bila alasan lain tak berguna
Kenapa bilang bahagia
Bila terus tersiksa
Kenapa bilang cinta
Bila selalu terpaksa
Kenapa bilang tak masalah
Bila berpisah karena berubah
Kenapa bilang cinta
Bila besok lalu lupa
Kenapa bilang selalu ada
Bila sepi kian mendera
Kenapa bilang cinta
Bila tak berusaha percaya
Kenapa bilang mencoba
Bila menghindari terluka
Kenapa bilang cinta
Bila berharap sebaliknya
Kenapa bilang mengerti
Bila tak pernah tepati janji
Kenapa bilang cinta
Bila kau tak setia
Kenapa bilang selamanya
Bila aku bukan satu-satunya
Kenapa bilang cinta
Bila tak pelihara baranya
Kenapa bilang melindungi
Bila kau biarkan mati
Kenapa bilang cinta
Bila bermimpi pun tak boleh juga
Kenapa bilang rindu
Bila tak lebih dari merayu
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Jangan Malu-Malu
Jangan malu-malu
Lepaskan sepatumu
Lelehkan lantai yang beku
Dengan hentakan kakimu
Jangan ragu-ragu
Bila tak seorang pun bersamamu
Tak usah merasa malu
Bila mimpi tak sesuai keinginanmu
Jangan malu-malu
Buang semua ragu
Alunkan sebuah lagu
Untuk mengusir hati yang pilu
Jangan ragu-ragu
Bila kau inginkan sesuatu
Tunjukkanlah bila perlu
Tekadmu yang sekeras batu
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Buat Apa
Buat apa uang berlebih
Jika tak dapat menikmati
Buat apa harta yang banyak
Jika keluarga tak dekat
Buat apa menyombongkan diri
Jika bukan usaha sendiri
Buat apa berdoa dan memuji
Jika tak setulus hati
Buat apa kekuasaan besar
Jika tak membela yang benar
Buat apa umur yang panjang
Jika kebahagiaan tak kau rasakan
Buat apa mengejar kejayaan
Jika akhirnya terlupakan
Buat apa bermain-main dengan kata
Jika tak ada sesuatu yang nyata
Buat apa kekuatan dashyat
Jika dendam terus kau ingat
Buat apa menjadi yang terbaik
Jika tak membuatmu menarik
Buat apa mati-matian mengolah raga
Jika kesehatan tak dijaga
Buat apa terus memperluas
Jika diliputi rasa tak puas
Buat apa berteman
Jika untuk mencari keuntungan
Buat apa memberi kesempatan
Jika selalu mencari kesalahan
Buat apa membuat pilihan
Jika dari awal tak pernah ada lain jalan
Buat diliputi kemujuran
Jika tak mendapatkan apa yang diinginkan
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
From Far Away: Jeida's Speech
Dunia ini luas
Bermacam-macam orang hidup dengan memegang cara pikirnya masing-masing
Di tempat yang tidak diketahui
Aku adalah bagian darinya juga
Aku dulu bermaksud menjalankan dunia seorang diri
Aku benar, tapi entah kenapa tak bisa menjalankan apa yang aku inginkan
Aku pernah hidup dalam kerisauan dan ratap tangis
Tapi mungkin karena aku dulu seperti ingin memasangkan dunia yang luas ini ke dalam bingkai yang kecil yaitu aku
Beban di pundakku telah kulepaskan
Sekarang aku akan mencari peranku sendiri
Tanpa tergesa-gesa, tanpa ambisi
Dengan santai
Sambil menjejakkan kaki di tanah
from kanata kara
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Kamu
Kamu, berbisik dalam hati
Kamu, memanggil dalam fikiran
Untuk apa…
Kalau tak kau jelaskan
bila aku akan mengerti..
Memanggil dalam fikiran
Berbisik dalam hati…
Entahlah…
Sampai bila
Aku juga tidak tahu….
poem by Qistina Zaini

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
A Coin Of Little Worth
I have seen and liked
silver coins stamped
in ancient Greece Rome
these usually carry the image
of supposedly great men
kings emperors face in profile
but their deeds were often
treacherous harsh cruel
wars these started for more
wealth slaves land to rule
my favourite coin
is a very small coin
tiny of little worth
that a woman with nothing
once gave at the temple
a very very long time ago
My Lord praised her
for giving all her livelihood
for giving more than
all gathered rich worshippers
combined because
proud rich gave a percentage
from all their amassed profit
a percentage calculated
based upon requirements of
law; but a poor woman gave
everything she had
based upon her own giving heart
it is written how Jesus sat down;
with the treasury chests in view
observing how the crowd dropped
money into the treasury chests;
many rich people were dropping in
many coins however a poor
widow woman dropped in only two
small coins which had very little value;
these coins became known as the widow's mite.
Jesus called his disciples and said to them
"Truly I say to YOU that this poor widow
dropped in more than all those dropping
money into the treasury chests; for they
all dropped in out of their surplus,
but she dropped in all of what
she had, her whole living." Mark 12: 41-44.
For the love of God.
poem by Terence George Craddock

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Pun Pelabuhan Bersaksi
: Annellis
Kedip matamu yang terakhir menjatuhkan ingatan
Pada pertemuan yang ragu antara hidupmu dan kenangan
Kau tabah menyimpan rindu dan menampung air mata
Menjadi oase di hatimu di tengah semenanjung harapan
Seluas impian masa kanak-kanakmu berdamping mesra
Di meja makan bersama keluarga
Sedih pilu tak risau kau jalani sebagai serangkai kenyataan
Yang redup redam dalam cerita-cerita gadis sengsara
Tentu tak lebih dari pengalaman seorang Nyai
Yang mengandung-membesarkanmu
Kini, tubuh sintalmu lemah melangkah
Melepas nasib di bawah tangga
Biru matamu sayu menatap kalah
Tanpa bayang-bayang remang kemenangan
Namun gentar kau menantang luas lautan
Yang berbadai
Bila saja kau toleh daun pintu usai berjabat tangan
Kau akan lihat riak-riak air mata memanggil namamu
Karena ada risau yang tak sempat memberi salam
Ingin mangantarmu sampai di mulut kapal
Dan biar jejakmu terhapus di geladak kayu
Hingga angin berkabar pada nahkoda
Untuk mengantarmu ke tempat segala impian
Yang tertanam di lubuk hidupmu
Mengakar di jantungmu
Keboen Laras,2011-2012
poem by Selendang Sulaiman

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!
Merah Putih
merah adalah berani
warna ksatria yang gagah
membela negeri
tapi bila hanya merah
yang ada hanya darah
putih adalah suci
warna sang perawan
bersahaja dalam diri
tapi bila hanya dia
yang ada hanya hampa
poem by Maria Sudibyo

Submitted by Poetry Lover
Vote! | Copy!